Farmakoterapi

FARMAKOTERPI PADA NYERI

FARMAKOTERAPI PADA NYERI

Disampaikan oleh

dr. Prasetya Hudaya

Workshop, Jumat, 6 November 2009, Riyadi Palace Hotel, Solo

PENDAHULUAN

            Definisi nyeri adalah “pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial, atau yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut. Dengan adanya nyeri, maka pasien akan mengeluarkan sejumlah dana untuk pengobatan, dapat kehilangan penghasilan dan mengalami penurunan produktivitas, penurunan kwalitas hidup (Quolity of life) seperti gangguan ADL (activities of daily living), perubahan mood, penurunan keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial.

KLASIFIKASI NYERI :

Nyeri dapat dibedakan menjadi :

1,         Nyeri akut : awitannya akut (acute onset), terlokalisir, intensitas nyeri tinggi, durasinya relatif singkat (beberapa jam sampai beberapa minggu). Dapat disertai respons fisiologis dari berbagai organ atau sistem, misalnya berkeringat, palpitasi atau peningkatan tekanan darah. Biasanya self limiting (dapat menghilang dengan sendirinya). Berfungsi protektif. Biasanya ada penyebab yang jelas, contoh operasi, trauma, persalinan, pemeriksaan medik invasif, beberapa penyakit akut.

2.         Nyeri kronik : awitannya tak jelas (insidious onset). Durasinya relatif lama (beberapa bulan hingga beberapa tahun). Nyerinya difus, intensitas bervariasi. Tidak berfungsi protektif. Menurunkan kesehatan dan fungsi, sering berhubungan dengan problem psikologis. Dapat disertai exacerbasi akut. Penyebabnya antara lain operasi, trauma, keganasan (malignancy), penyakit kronik, misalnya rheumatoid arthritis, osteoarthritis, nyeri punggung bawah, nyeri bahu.

Berdasarkan tipe nyeri, nyeri dapat dibedakan menjadi :

1.         Nyeri nosiseptif, nyeri inflamatorik, nyeri neuropatik, nyeri fungsional,

migraine.

2.         Nyeri sentral, nyeri periferal.

3.         Nyeri somatik, nyeri visceral.

4.         Nyeri yang sympathetically mediated dan yang independent.

            Di bawah ini hanya akan diketengahkan nyeri yang banyak dijumpai di klinik :

1.         Nyeri nosiseptif

Disebabkan oleh adanya cedera pada jaringan tubuh, seperti kulit, muskuloskeletal dan organ visceral. Misalnya nyeri karena inflamasi, fraktur, arthritis, nyeri pasca operasi organ visceral.

2.         Nyeri neuropatik

Disebabkan oleh adanya lesi atau disfungsi primer pada sistem saraf, baik susunan saraf tepi atau susunan saraf pusat. Nyeri neuropatik dapat bersifat spontan (kontinu atau paroksismal) atau dibangunkan (hiperalgesia atau alodinia).

Contoh pada susunan saraf tepi : post herpetic neuralgia, trigeminal neuralgia, diabetic peripheral neuropathy, post surgical neuropathy, post traumatic neuropathy. Contoh pada susunan saraf pusat.: post stroke pain.

3 Nyeri campuran nosiseptif dan neuropatik

Misalnya low back pain dengan radiculopathy, cervical radiculopathy,  cancer pain,carpaltunnelsyndrome.

FARMAKOTERAPI

            Pemberian obat-obatan untuk nyeri disesuaikan dengan keadaan klinis dan jenis penyakit.

Pada nyeri akut :

Dapat digunakan opioid analgesik : codein, morfin, methadone. Non opioid analgesik : acetaminophen/paracetamol (Panadol®, Sanmol®, Biogesic®), tramadol (Tramal®, Tradosik®), NSAID/Non Steroid Anti Inflammatory Drugs : celecoxid (Celebrex®), natrium diclofenak (Voltaren®), Piroxicam (Feldene®). Produk kombinasi analgesik : Ibuprofen + Paracetamol (Neo Rheumacyl® ), natrium diklofenak + vitamin B1 + vitamin B6 + vitamin B12 (Dolofenac®). Obat untuk anestesi lokal : lidocaine. Obat anestesi untuk memblok saraf perifer.

Pada chronic non cancer pain

              Selain obat-obatan untuk nyeri akut, dapat ditambahkan antidepressants : TCAs = tricyclic antidepressants, SSRIs = selective serotonin reuptake inhibitors, SNRIs = serotonin norepinephrine reuptake inhibitors : duloxetine (Cymbalta®), tetracyclic antidepressant). Anticonvulsants : carbamazepine (Tegretol ), lamotrigine (Lamictal®), phenytoin (Dilantin®), gabapentine (Neurontin®), Pregabalin (Lyrica®). Antiarrythmic (mexilentine, iv lidocaine, topical lidocaine). Muscle relaxants : eperisone (Myonal®, Myonep®), tizanidine (Sirdalud®).  Calcitonine, Ethidronate. NMSA reseptor antagonist (ketamine, memantine, dextrometorphan). Adenosine. α2 adrenergic receptor antagonist  : clonidine (Catapres®).

Pada nyeri neuropatik

            Obat-obat untuk nyeri neuropatik mempunyai mekanisme kerja yang berbeda :

–           Central sensitization : Ca++ (gabapentine, lamotrigine, oxcarbazepine/Trileptal®, pregabalin), NMDA = N-methyl-D-aspartate reseptor (dextrometorphan, ketamine, methadone, memantine).

–           Descending inhibitory pathways (NE = Nor Epinephrine / 5HT = 5 Hydroxy Triptamine, opioid receptor) : alpha adrenergic agents, opioids, SNRIs, SSRIs, tramadol, TCAs.

–           Peripheral mechanisms : Na+ (carbamazepine, lamotrigine, lidocaine, oxcarbazepine, topiramate (Topamax®), TCAs.

Di atas adalah garis besar obat-obatan yang dapat diberikan kepada kondisi nyeri sesuai dengan tipe nyeri, namun yang lebih tepat adalah disesuaikan dengan penyakit yang sedang dihadapi. Beberapa contoh akan dipaparkan di bawah ini.

Farmakoterapi pada nyeri arthritis :

1.         Osteoarthritis : analgesik, NSAIDs (nonselective, COX-2 spesific inhibitors), intra-articular glucocorticoids, intra-articular hyaluronic acid (Hyalgan® = natrium hyaluronate).

2.         Rheumatoid arthritis : DMARDs (Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs), NSAIDs (non selective, COX2 specific inhibitors), local or low dose systemic steroids.

Farmakoterapi pada Post Herpetic Neuralgia (PHN)

            Dapat digunakan obat-obatan di bawah ini : TCAs, gabapentine, pregabalin, topical lidocaine. Strong opioids, tramadol, capsaicin. mexilentine, NMDA antogonists.

Farmakoterapi pada Migraine

            Selain analgesik seperti paracetamol, ibuprofen. Juga digunakan obat-obat yang menimbulkan vasokonstriksi, contoh sumatriptan succinate, ergotamine-caffeine (Caffergot®)

Farmakoterapi pada Renal colic

            Renal colic merupakan visceral pain, selain analgesik, NSAID, dapat juga digunakan obat-obat antispasmodik, contoh : hyoscine-N-butylbromide (Buscopan®).

PENUTUP

            Pilihan obat-obatan untuk nyeri harus disesuaikan dengan kondisi klinis atau penyakit yang sedang dihadapi, juga harus dipikirkan keamanan obat bagi pasien yang bersangkutan, efektivitas obat, toleransi dan harga obat.

Daftar Kepustakaan

1.         Handono Kalim, Editor and Project Directior. Workshop in the Management of Pain, A joint project of Indonesian Rheumatism Association (IRA), Indonesian Pain Society (IPS) and Internationational Association for Study of Pain (IASP). 2002, Semarang.

2.         John Edmeads, Editor, Migraine A Bright Future, Perspective from the 1st International IMIGRAN symposium, Paris, 14 – 15 March 1992.

 

3.         Lucas Meliala, Andradi Suryamiharja et.al., Nyeri Neuropatik, Edisi ke-2,

Cetakan pertama, Medikagama Press, 2008.

4.         MIMS Indonesia, 111th edition, 2008.

5.         Peter Kaye, Notes on SYMPTOM CONTROL in Hospice & Palliative Care, 2004, Machiasport, Maine, USA

About wahyu

A blog about stroke management

Posted on December 20, 2011, in Medical Therapy. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: