Category Archives: Physical Therapy

Assesments Parkinson Disease

280120123890PARKINSON DISEASE

HISTORY TAKING

1. Patient’n demand and motivation.

2. Natural of course of disease = onset of complaint,  time since the diagnosis, severity and natur of the course, result earlier of diagnostics.

3. Partisipation problem = problem with relationship, profission and work, social life ( among others, recreational time)

4. impairments in fucntions and limitations in activities =

-transfer: sit down, rise from floor or chair, get in or out bed, roll over in bed (sleeping problem), get in or out a care, get on or off a bike.

-body posture: possibility of an active correction af posture, paint due to postural problem, problem with reahcing, grasping and moving objects.

-balance: feeling of impaired balance while standing and during activities, orthotastic hypotention, difficullity with dual tasking (motor activities and cognitive)

-reaching and grasping : household activities (small repairs, clean, cook, slice food, hold a glassor or cup without spilling), personal care (bath, get dressed/undressed, button up, lace up shoes.

-gait: used of aids, walk in the house, climb  the stairs, walk short distances outside (100 m), walk long distances outside (>1 km) start, stop, turn, speed, onset of fistination, onset of freezing (use the freezing of gait questionaire), relation to falls and the use of cues.

influence of tiredness, the time of the day and medication on the performance of activities, influence of tremor on the performan of activities

-Physical activity: frequency and duration per week compared to the dutch standard of healty moving (at least 30 min/day for 5 days a week) when heving doubts use the LASA physical activity questionnaire (LAPAQ).
-Risk to fall: fall incidents (use to questionnairehistory of falling), fear to fall, if patients had nearmisses the past year, use the falls efficacy scale (pes)
-Co –morbidity: Pressure sores, osteoporosis and mobility-limiting disorders such as arthrosis, remathoid arthritis, heart failure and COPD.
-Treatment: current treatment (among others, medication and outcame) earlier (allied) medical treatment type and outcame)
-Other factore: 1. Mental factor, 2. Personal factor, 3. External factor.
1. Mental factor: ability to consentrate, memory, depression, felling isolated and lonely, being tear ful, anger, concern for the future.
2. Personal factor: insight into the disease, socio-cultural background (attitude, among other,with regard to work), coping (among other,the persetion of th limitations and possibility, the patient’s solutions with regardto the limitations
3. External factor: Attitude support and relations (of, among others, partner, primary care physician, employer) accommodation(among others, interior, kind of home), work(content, circumstances,conditions,and relations)
4. Expectations: Expectation of the patient with regard to prognosis, goal and course of the treatment, treatment outcome, need for information advice and coaching.

NEUROMUSKULER

pertemuan 4 lanjutan

NEUROMUSKULER

Neromuskuler 4

Neuromuskuler

Neuromuskuler II

Fractur Tibia Plateu

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Tingkat kecelakaan lalu lintas di kota besar terbilang cukup tinggi. Dimana kecelakaan tersebut dapat menimbulkan kerugian yang cukup tinggi bagi korban kecelakaan lalu lintas tersebut. Akibat yang ditimbulkan bagi korban itu sendiri dapt berupa efek fisik dan psikis. Dari segi fisik tentunya kecelakaan dapat menyebabkan timbulnya luka pada setiap jaringan tubuh yang terkena trauma dari kecelakaan lalu lintas baik secara langsung maupun tidak langsung. Efek langsung dari trauma tersebut dapat berupa adanya fraktur, luka terbuka ataupun kerusakan pada organ dalam tubuh yang dapat juga menyebabkan kematian. Sedangkan efek psikis dari kecelakaan lalu lintas dapat berupa trauma ataupun rasa takut.

Fraktur sebagai akibat dari trauma langsung dapat terjadi pada setiap tulang pembentuk tubuh tergantung dari penyebab dan mekanisme terjadinya trauma. Fraktur adalah suatu kondisi terputusnya kontinuitas dari jaringan tulang yang diakibatkan oleh trauma langsung atau tidak langsung maupun patologis. Fraktur dapat bersifat tunggal maupun multiple dimana pada fraktur ini dapat mengenai beberapa tulang yang terjadi secara bersamaan dan dapat menimbulkan beberapa macam masalah.

Pada laporan kasus ini fraktur yang terjadi adalah fraktur terbuka tibial plateu dextra, disertai fraktur phalanx pedis dekstra, dan fraktur femur 1/3 tengah dextra, dimana merupakan fraktur yang mengenai tulang tibia, phalanx, dan femur bagian tengah. Adapun penanganan yang dapat diberikan pada kasus ini adalah operasi dengan pemasangan plate and screw pada tibia proksimal dan femur, serta pemasangan kischner pada phalanx 1-3. Masalah-masalah yang ditimbulkan dari post operasi adalah adanya nyeri, oedema, spasme, keterbatasan gerak, kelemahan otot, deformitas, dan gangguan fungsional dari anggota gerak yang terkena fraktur, serta kemungkinan terjadinya komplikasi sekunder berupa miositis ossifikan, avaskuler nekrosis dan lain sebagainya.

Fisioterapi merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu serta masyarakat untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi sepanjang daur kehidupan dan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutik, mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi.

Beberapa latar belakang masalah tersebut, maka kami tertarik untuk mencoba mengkaji dan memahami mengenai penatalaksanaan fisioterapi pada kasus post operasi open fraktur tibial plateu dextra, fraktur phalanx, dan fraktur femur 1/3 tengah dextra.

  1. B.     Identifikasi Masalah

Penanganan yang dilakukan pada kasus post operasi open fraktur tibial plateu dextra dapat dilakukan secara konservatif dan operatif. Tindakan operatif yang dilakukan yaitu dengan pemasangan plate and srew, dimana pada post operasi pemasangan plate and srew akan ditemui permasalahan yaitu adanya nyeri, oedema, spasme, keterbatasan gerak, kelemahan otot, deformitas, dan gangguan fungsional dari anggota gerak yang terkena fraktur.

  1. C.    Pembatasan Masalah

Dari identifikasi masalah dan keterbatasan waktu yang ada, maka kami hanya membatasi permasalahan pada penatalaksanaan fisioterapi pada kasus post operasi open fraktur tibial plateu dextra dengan pemasangan ORIF berupa plate and srew.

  1. D.    Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut diatas, maka kami merumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Modalitas fisioterapi apa saja yang dapat digunakan  pada kasus post operasi open fraktur tibial plateu dextra dengan pemasangan plate and srew.
  2. Problematik fisioterapi apa saja yang dialami oleh pasien dengan kondisi open fraktur tibial plateu dextra.
  1. E.     Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui manfaat terapi latihan pada kasus fraktur tibia plateu dextra yang berhubungan dengan gangguan fungsi gerak dan aktifitas fungsionalnya.

  1. F.     Manfaat Penulisan Makalah
  1. Bagi Penulis

Adanya penulisan laporan kasus ini akan menambah pemahaman dalam melaksanakan  proses fisioterapi pada kasus post op open fraktur tibial plateu dextra dengan pemasangan plate and srew.

  1. Bagi Institusi

Sebagai referensi tambahan untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada kasus post op open fraktur tibial plateu dextra dengan pemasangan plate and srew

  1. Bagi Fisioterapis

Untuk mendapatkan metode terapi yang tepat dan bermanfaat dalam melakukan penanganan pada kasus open fraktur tibial plateu dextra.

  1. Bagi Masyarakat

Sebagai pertimbangan bagi masyarakat mengenai peran fisioterapi pada kasus open fraktur tibial plateu dextra sehingga tidak terjadi malpraktek akibat ketidaktauan masyarakat akibat kesalahan penanganan pada kondisi ini.

 

BAB II

KERANGKA TEORI

 

A. Deskripsi Teoritis

1. Anatomi Fungsional

1. Osteologi

a. Tulang Femur

Femur merupakan tulang panjang terpanjang pada tubuh dan dibagi dalam corpus, collum, ujung proximal, dan ujung distal. Pada corpus kita bedakan menjadi tiga bagian yaitu, facies anterior lateral dan medial. Facies lateral dan medial dipisahkan dari sisi dorsal oleh dua peninggian berbibir kasar, lineaaspira yang merupakan daerah tebal tulang kompakta. Disekitar linea aspera terdapat foramen nutricea, labium medial dan lateral, labiumlateral berakhir pada tuberusitas glutea. Kadang-kadang tuberusitas glutea lebih nyata dan dikenal sebagai trochanter ketiga. Labium medial berjalan kepermukaan bawah collum. Sedikit lebih lateral dari labium medial kita temukan birai yang turun dari trochanter minor yaitu linea pectinea.

Pada bagian proximal dan distal corpus femoris kehilangan bentuk segitigany dan menjadi lebih bersisi empat. Caput femoris dengan lekukan yang menyerupai pusar yaitu fovea cacitis yang mempunyai batas irregular dengan collum. Peralihan dari collum. Peralihan dari collum ke corpus femoris dianterior ditandai oleh linea intochanterica dan diposterior oleh crista introchanterica. Tepat dibawah trochanter mayor terletak fossa trochanterica. Trocanter minor menonjol ke posterior dan medial.

Pada ujung distal dibentuk oleh epicondylus, tepat dekat epicondylus terletak condylus lateralis dan medialis. Keduanya disatukan pada permukaan anterior oleh facies patelaris dan diposterior dipisahkan oleh fossa intercondyloidea. Fossa ini dibatasi oleh linea intercondylloidea yang membentuk dasar segitiga (planumpopiliteum) yang sisinya dibentuk oleh labium divergen linea aspera. Dibawah epycondylus lateralis terletak sulcus popliteus dan diatas epicondylus medialis terdapat tubercullum adductorius.

b. Tulang Patella

Patella merupakan tulang sesamoid terbesar dalam tubuh manusia. Tulang patella berbentuk gepeng dan segitiga. Apex dari tulang patella menghadap kearah distal. Pada permukaan anterior tulang patella kasar dan permukaan dosal mempunyai permukaan sendi yang dipisahkan ole sebuah peninggian menjadi facies lateralis yang lebih besar dan facies medialis yang lebih kecil.

c. Tulang Tibia

Tulang tibia dibedakan menjadi tiga bagian yaitu, bagian ujung proximal, corpus dan ujung distal. Bagian tulang tibia membentuk sendi lutut adalah bagian proximal. Pada bagian proximal terdiri atas condylus medialis tibiae. Condylus medialis tibiae permukaan sendi dinamakan facies articularis superior condyli medialis tibiae. Tapi lateral facies artecularis superior condyli medialis agak menonjol dan dinamakan tuberculum intercondyloiddeum mediale. Pada condylus lateralis tibiae permukaan sendi yang dinamakan facies articularis superior condyli lateralis tibiae dinamakan tubercullum intercondyloideum yang memisahkan kedua facies articularis pada bagian ini terdapat eminentia intercondyloideum, fossa intercondyloideum anterior, fossa intercondyloideum posterior. Pada tuberusitas tibea tonjolan dibagian ventral dan merupakan lekat tendo m. Quadriceps femoris melalui ligamentum patella pada bagian corpus (diaphysis) tibiae berbentuk segi tiga dibedakan atas facies lateralis. Facies medialis tibiae, facies psterior tibiae terdapat linea poplitea tempat alas m. Soleus sedangkan pada bagian kranialnya merupakan tempat lekat m. popliteus dan crista interossea tibiae terdapat diantara facies lateralis dan facies posterior berhadapan dengan crista interossea fibulae. Pada bagian distal agak melebar dibagian terdapat malleolaris. Incisura fibularis pada malleolus medialis bagian medial pars distalis yang menonjol kekaudal, pada sulcus malleolaris permukaan dorsal malleolaris medial yang dilalui oleh tendines mm. Tibialis posterior et flexordigitorum longus. Pada incisura fibularis lekukan dibagian lateral yang berhubungan dengan fibulae.

d. Tulang Fibula

Tulang fibula dibagi menjadi tiga bagian yaitu ujung proximal, corpus, dan ujung distal. Pada bagian proximal terdiri capitulum fibulae melekat kebagioan karniodorsal tibia. Puncak capitulum fibulae dinamakan apex capituli fibulae. Pada bagian corpus fibulae berbentuk seperti prisma. Tapi yang berhadapan dengan crista interossea tersebut dihubungkan oleh membrana interossea cruris. Pada bagian distal ditandai oleh penonjolan kekaudal yang dinamakan malleolus lateralis. Malleolus lateralis mempunyai permukaan sendi dinamakan facies articularis malleoli lateralis yang bersendi dengan tulang talus dipermukaan dorsal malleolus lateralis terdapat sulcus tendinis mm. Peronerum.

e. Tulang Talus

Tulang talus dibagi menjadi tiga yaitu caput tali, collum tali, corpus tali. Pada bagian caput tali terdapat facies articularis navicularis yang bersendi dengan naviculare pedis. Pada collum tali menghubungkan capu tali dan corpus tali. Di collum tali terdapat sulcus tali yang bersamaan dengan tulang calcaneus membentuk sinus tarsi. Sinus tarsi tempati oleh ligamen talocalcaneum interosseum. Pada bagian corpus tali dimana terdapat trocheal tali, facies malleolaris meialis tali, processus lateralis tali, processus poterios tali. Pada bagian processus posterior tali terbagi menjadi dua yaitu tubercullum laterale dan tubercullum mediale.

f. Tulang Calcaneus

Tulang calcaneus dibagi menjadi dua yaitu facies articulares talares anterior et media dan facies talares posterior. Pada facies articulares talares menonjol kemedial dinamakan sustentaculum talim. Dibagian dorsal calcaneum terdapat tonjolan besar dinamakan tuber calcanei. Permukaan medianya terbagi dua bagian yaitu processus medialis calcanei dan processus lateralis tuberis calcanei.

g. Tulang Naviculare Pedis

Tulang naviculare pedis dilihat dari distal terdiri dari facies articularis terdapat caput tali dan ossa cuneiformiae dipermukaan medianya tuberusitas ossis naviculare pedis yang dapat diraba dibawah depan malleolus medialis.

h. Tulang Cuneuforme

Tulang cuneuforme terdiri atas tulang cuneuforme medialis berbentuk paling besar bentuknya. Tulang cuneuforme intermedius paling kecil permukaan sendinya seperti huruf “L” terbalik dan tulang cuneiforme lateralis.

i. Tulang Metatarsale

Tulang metatarsale terdiri dari lima buah setiap bagian terdiri dari corpus distal, media, lateral.

j. Tulang Basis Phalangis

Tulang basis phalangis terdiri dari lima setiap bagian terdiri dari distal, medial, lateral.

k. Tulang phalanx

Tulang phalanx terdiri dari phalanx distal, phalanx proksimal

2. Otot-otot Tungkai Atas

a. Otot Sartorius

Origo            : Spina iliaca anterior superior

Insertio         : Facies madialis tibiae dekt tuberusitas tibiae bersama-sama

Dengan tendo otot gracilis dan otot semitendinosus

b. Otot Rectus femoralis

Origo            : Caput rectum, spina anterior inferiorcaput obliqum, agak

dikranial acetabulum

Insertio         : Tuberusitas tibiae melalui ligament patellae

c. Otot-otot Vastus medialis

Origo            : Bagian paling kaudal linea intertrochanterica, labium mediale

linea aspera

Insertio         : Tepi medial tendo otot rectus femoralis, patella

d. Otot-otot Intermedius

Origo            : Permukaan depan dan lateral femur

Insertio         : Tendo otot rectus femoralis

e. Otot-otot Vastus lateral

Origo            : Permukaan depan dan kaudal trochanter major, labium laterale

Linea aspera

Insertio         : Tepi lateral tendo otot rectus femoris, patella

f. Otot Articularis genu

Origo            : Permukaan depan bagian kaudal femur

Insertio         : Permukaan atas dan lateral capsula articularis articulatio genu

g. Otot Pectineus

Origo            : Pectin ossis pubis, fascia pectinea

Insertio         : Linea pectinea femoralis

h. Otot Adductor longus

Origo            : Ramus superior ossis pubis diantara symphisis et tuberculum

pubicum

Insertio         : Labium mediale linea aspera

i. Otot Gracilis

Origo            : Ramus inferior ossis pubis

Insertio         : Facies mediale tibea dekat tuberositas tibea bersama-sama dengan

tendineae mm. sartorius et semitendinosus (Pesanserinus)

j. Otot Adductor Brevis

Origo            : Ramus inferior ossis pubis

Insertio         : Labium mediale linea aspera

k. Otot Adductor Magnus

Origo            : Ramus inferior ossis pubis

Insertio         : Labium mediale linea aspera

l. Otot Adductor Minimus

Origo            : Ramus inferior ossis pubis

Ramus inferior ossi inchi

Insertio         : Labim mediale linea aspera

m. Otot Semimembranosus

Origo            : Tuber ischiadikus

Insertio         : Condilus mediale tibiae

n. Otot Bicep femoralis

Origo            : Caput longum : tuber ischiadicum

Caput breve    : labium laterale linea asperae

Insertio         : Capitulum fibulae, condylus lateralis

3. Otot Tungkai Bawah

a. Otot Tibialis anterior

Origo            : Condylus lateralis tibea, facies lateralis tibea, membrane interssea

Cruris, facies cruris

Insertio         : Permukaan plantar tulang cuneuforme I, permukaan atas basis

Ossis metatarsalis I

b. Otot Extensor digitorum longus

Origo            : Capitulum et facies medialis fibulae, fascia cruris

Insertio         ; Aponeurosis dorsalis jari kaki II, V

c. Otot Pereneus tirtius

Origo            : Fibula (merupakan bagian paling lateralis m. extensor digitorum

longus)

Insertio         : Basis ossis metatarsalis 5

d. Otot Extensor Hallucis Longus

Origo            : Facies medialis fibulae, membrana interossea cruris

Insertio         : Basis phalanx terakhir ibu jari kaki

e. Otot Gastocnemius

Origo            : Caput mediale epicondylus medialis moris, caput latrale,

epicondylus lateralis femoris

Insertio         : Tuber calcanei dengan perantaraan tendo calcanei achilles

f. Otot Soleous

Origo            : Capitulum febulae, facies posterior fibulae, linea poplitea tibiae,

Arcus tendinis otot soleus

Insertio         : Tuber calcanei melalui tendo calcanei achillus

g. Otot Tibialis Anterior

Origo            : Condylus lateralis femoralis, ligament popliteum tibiae

Insertio         : Planum popliteum tibiae

h. Otot Plantaris

Origo            : condylus lateralis femoralis

Insertio         : Tuber calcanei

i. Otot Flexor Digitorum Longus

Origo            : Facies posterior tibiae, facies cruris lembar dalam

Insertio         : Phalanx distal jari kaki II, III

j. Otot Flexor Hallucis Longus

Origo            : Facies posterior fibulae, facies cruris lembar dalam

Insertio         : Phalanx distal ibu jari kaki

k. Otot Tibialis Posterior

Origo            : Facies posterior fibulae, membrane interossea cruris, facies

posterior tibiae

Insertio         : Tuberositas ossis navicularis

l. Otot Peroneus Longus

Origo            : Facies lateral fibulae

Insertio         : Ossa curneuforme I, basis ossis metatarsalis I.

m. Otot Peroneus Brevis

Origo            : Facies lateralis fibulae

Insertio         : Basis ossis metatarsalis V

4. Otot-otot Kaki

a. Otot Extensor Hallucis Brevis

Origo            : Bagian depan calcaneus

Insertio         : Oponerosis dorsalis ibu jari kaki

b. Otot Extensor Digitorum Brevis

Origo            : Bagian depan calcaneus

Insertio         : Oponerosis dorsalis jari kaki II sampai V

c. Otot bAbduktor Hallucis

Origo            : Processus medialis tuberis calcanei, flexor retinaculum

Insertio         : Sisi medial phalanx proximal

d. Otot Flexor Digitorum Brevis

Origo            : Processus medialis calcanei, aponerosis plantaris

Insertio         : Phalanx intermedius jari II sampai V

e. Otot Abduktor Digiti V

Origo            : Processus medialis et lateralis tuberis calcanei

Insertio         : basis ossis metatarsalis V, basis phalanx proximal jari V

f. Otot Quadratus Plantae

Origo            : Facies plantaris calcanei

Insertio         : Facies plantaris tendo otot flexor digitorum longus

g. Otot Lumbricales

Origo            : Tendo flexor digitorum

Insertio         : Aponerosis dorsalis jari II sampai IV

h. Otot Adduktor Hallucis

Origo            : caput obliqulum basis asseum metatarsalae II sampai V caput

tranversum sampai sendi articularis metatarsophalanxealis II sampai V

Insertio         : Basis phalanx proximal ibu jari

i. Otot Flexor Digiti V Brevis

Origo            : Basis ossis metatarsalis V

Insertio         : Basis phalanx proximal jari V

5. Ligamen-ligamen pada sendi lutut

a. Ligamen Collateral Medial

Terbentang dari condylus medialis femoralis sampai tuberositas tibia

b. Ligamen Collatera lateral

Barasal dari condylus lateralis menuju capitulum

c. Ligamen Cruciatum Anterior

Berjalan dari fossa intercondyloidea anterior tibia kepermukaan medial condylus lateral femoralis

d. Ligamen Cruciatum Posterior

Berjalan dari permukaan lateral condylus femoralis medial kefossa intercondylodea posterior tibia. Ligamen ini diperkuat oleh ligamen cruciatum anterior

e. Ligamen Popliteum Arcuatum

Terletak pada daerah femoralis, erat hubungannya dengan otot popliteum

f. Ligamen Popliteum Obliqum

Berjalan dari condylus lateralis femoris kemudian turu menyilng menuju facia meial popliteum

6. Ligamen-ligamen pada sendi kaki

a. Dilihat dari lateral

1) Ligamen Talofibulare posterior

Berjalan dari  tulang talus melintang ketulang fibula bagian belkang

2) Ligamen Calcaneofibulare anterius

Berjalan dari tulang calcaneus membentang ketulang fibula

3) Ligamen Tibiofibulare anterius

Berjalan tulang tibia bagian depan dan tulang fibula bagian depan

4) Ligamen Talofibulare anterius

Berjalan tulang talus membentang lurus ketulang fibula bagian depan

5) Ligamen Calcaneonavicular

Berjalan dari tulang calcaeus dan tulang naviculare melintang pada gagian atas punggung kaki.

6) Ligamen Calcaneocuboideum

Berjalan dari tulang calcaneus dan tulang cuboideum pada bagian atas

punggung kaki

b. Dilihat dari medial

1) Ligamen Tibiotalare Anterius

Berjalan melintang dari depan dari ujung Tibia dan tulang talus pada sisi depan

2) Ligamen Tibiotalare Posterior

Berjalan melintang dari belakang dari tulang Tibia dan tulang Talus pada sisi belakang

3) Ligamen Tibionaviculare

Berjalan disamping pada tulang tibia dan tulang Naviculare

7. Biomekanika pada sendi lutut dan pergelangan kaki

a. Sendi Lutut

Sendi lutut merupakan struktur tulang dari tungkai atas dan tungkai bawah yaitu tulang femur, tibia, fibula dan patella serta dibentuk dari beberapa ligamen dan minikus. Sendi lutut mempunyai gerakan diantaranya fleksi, ekstensi, eksternal rotasi. Gerakan fleksi dari posisi full ekstensi, dimulai gerakan rotasi secara simultan tibia terhadap femur melalui kontraksi otot popliteus, selanjutnya terjadi gerakan fleksi aktiv akibat kontraksi M. Hamsting.

Pada gerakan fleksi-ekstensi maka meniscus akan menguat terhadap tibia yang bergerak terhadap femur. Pada gerakan rotasi dengan fleksi lutut, maka meniscus akan bergerak mengikuti femur trhadap tibia. Ligamentum cruciatum anterior akan mengalami penegangan saat ekstensi dan mengendor saat fleksi. Gerakan rotasi eksternal tibia terhadap femur pada 20 derajat menuju posisi ekstensi disebut mekanisme screw home dan keaadan tersebut dipengaruhi sususnan kondilus dan pengendalian struktur ligamentosa.

Kontraksi Mm. Quadriceps maka parella, ligamentum yang berhubungan dengan kapsula sendi akan tertarik kearah anterior dan keatas, sehinggga mencegah terjadinya pergerakan antara condylus pada sisi yang berlawanan. Ada tiga facet sendi pada permukaan persendian dari femur. Pada pergerakan menuju fleksi meuju ekstensi, maka hubungan antara permukaan sendi melalui dari facet medial dan selanjutnya kefacet interior. Kerja otot pada pergerakan ekstensi dilakukan oleh kelompok otot bicep femoris.

Struktur ligament akan membantu ekstensi lutu ketika tibia menguat pada posisi menumpu berat badan. Saat lutut bergerak dari fleksi keekstensi, gerakan kondylus lateral akan dihentikan pada gerak sendi 160 derajat oleh ligamen cruciatum anterior dan ligamentum colateralis. Selanjutnya dari kontraksi quadriceps menyebabkan kondylus medialis akan menambah jangkauan jarak gerak sendi sebesar 20 derajat (untuk menambah full fleksi menjadi 180 derajat) dan menimbulkan gerakan internal rotasi tibia terhadap femur.

b. Sendi Pergelangan Kaki

Struktur tulang pembentuk sendi pergelangan kaki dibentuk oleh dua buah tulang sendi berikut:

1) Pada bagian proximal disusun oleh dua buah tulang panjang yang merupakan

struktur tulang dari tungkai bawah yaitu tulang tibia dan fibula.

2) Pada bagian distal disusun oleh 12 tulang pendek yang merupakan struktur

tulang dari kaki yaitu : tulang talus, tulang calcaneus, tulang kuboideum, metatarsal I, II, III, IV dan V

2. Fraktur tibia plateu

1. Pengertian 

Fraktur Adalah suatu diskontuinitas susunan/jaringan tulang yang

disebabkan oleh trauma atau keadaaan patologis. (Kumpulan bahan kuliah Program Diploma IV Fiosioterapi, 2004)

Fraktur adalah hilangnya kontuinitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang partial (Chairudin rasjad). Jadi fraktur tibia plateu merupakan kasus yang sering menimbulkan komplikasi sekunder seperti kelainan sendi lutut dan instabilitas sendi lutut. Sehingga akan menyebabkan gangguan fungsi sendi dan disability setelah cidera. (Apley, 1995)

2. Etiologi

Menurut Apley (1995) bahwa penyebab terjadinya fraktur dibedakan menjadi 4 macam yaitu a) fraktur karena trauma langsung ( direct violence ), b) fraktur karena trauma tak langsung (indirect violence), c) fraktur akibat kelelahan tulang (fatique fracture) dan d) karena kondisi patologis (pathological fracture ). Fraktur yang terjadi pada kasus ini adalah fraktur karena trauma langsung pada tibia plateu akibat kecelakaan lalu lintas.

  1. Patofisiologi fraktur tibia plateu

Mekanisme cidera pada fraktur tibia plateu disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas tertabrak motor sehingga terjadi fraktur pada tibia plateu. Menurut Adam (1992) sebagian besar fraktur pda tibia plateu sering diikuti kerusakan permukaan sendi lutut dan gangguan stabilitas sendi, sehingga menyebabkan arthropathy dan disabilitas. Beberapa jaringan lunak sering mengalami kerusakan termasuk meniskus dan ligamentum stabilisator sendi lutut, namun apabila trauma yang terjadi sangat keras sering pula mengalami kerusakan arteri popletia dan pembuluh saraf tepi terutama nervus peroneus dan tibialis.

Jaringan yang mengalami cidera akan melewati beberapa tahap untuk mencapai penyembuhan yaitu tahap injury, inflamasi, proliferasi sel dan remodeling, ( Miclovitz, 1996)

  1. Gambaran Klinis

Tanda yang menunjukan adanya fraktur tibia lateu tidak jauh berbeda dengan tanda fraktur secara umum yaitu adanya nyeri, odema, deformitas dan gangguan fungsi, namun pada fraktur tibia plateu ini mempunyai ciri-ciri yang khas adanya pembegkaanpada lutut dan sedikit deformitas, memar biasanya luas dan jaringan terasa adonan karena hemathrosis. Pada pemeriksaan secara hati-hati ( dibawah anesthesia) dapat menunjukan ketidakstabilan kearah medial  maupun lateral. Kaki dan ujung kaki harus diperiksa dengan cermat untuk mencari ada tidaknya tanda tanda cidera pembuluh darah    dan neurulogi ( Apley, 1996).

4. Klasifikasi Fraktur

Klasifikasi fraktur ada dua yaitu:

a. Fraktur terbuka: terputusnya hubungan tulang dan menembus jaringan otot dan kulit sehingga dapat terlihat dari luar.

b. Fraktur tertutup: terputusnya hubungan tulang tetapi fraktur ini tidak

menembus jaringan kulit, sehingga tidak terlihat dari luar.

Houglund dan states mengklasifikasikan fraktur tibia berdasarkan bearnya energi yang menyebabkan terjadinya fraktur, yang dapat menentukan prognosis:

a. Fraktur berkekuatan tinggi; misalnya dari kecelakaan mobil dan tabrakan,

fraktur dari group ini sembuh kira-kira 6 bulan.

b. Fraktur berkekuatan rendah ; misal dari kecelakaan bermain ski, fraktur dari group ini sembuh kira- kira 4 bulan.

  1. Komplikasi

Komplikasi yang sering muncul akibat fraktur tibia plateu adalah (1) kekakuan sendi lutut, (2) deformitas sendi lutut, (3) osteoarthritis lutut. ( Apley, 1995).

2. ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi)

A. Definisi

ORIF adalah suatu tindakan operasi yang bertujuan untuk mengembalikan struktur tulang yang fraktur pada keadaan anatomis dari dalam dengan memberikan ikatan dari dalam.

B. Jenis Perangkat Fiksasi

  1. Cortical bone screw
  2. Cancellous bone screw
  3. Self tapping screw
  4. Dinamik hip screw / dinamik condilar screw
  5. Plates
  6. Blade p;ates
  7. Intramedularis nail
  8. Tension band wiring

C. Indikasi Fiksasi Internal

  1. Fraktur yang tidak dapat direduksi kecuali dengan operasi misalnya fraktur dengan displacement dan tidak stabil.
  2. Fraktur yang tidak stabil secara bawaan dan cenderung mengalami pergeseran setelah dilakukan reduksi, misalnya fraktur pertengahan batang pada lengan bawah dan fraktur pergelangan kaki yang bergeser.
  3. Fraktur yang cenderung ditarik terpisah oleh otot, misalnya fraktur melintang pada patella atau olecranon.
  4. Fraktur yanfg penyatuaannya kurang baik dan perlahan-lahan terutama pada frakktur leher femur.
  5. Fraktur patologi akibat suatu penyakit tulang
  6. Fraktur multiple dimana bila fiksasi dini dengan fiksasi internal atau dengan tujuan untuk mrengurangi resiko komplikasi umum dan kegagalan berbagai organ sistem tubuh (Philips dan Conteas, 1990).
  7. Kondisi fraktur dimana suplay drah pada angggota gerak tergangggu dan pembuluh-pembuluh darah harus terlindungi (Dandy, 1990)
  8. Ditemukan banyak debris, dan fragmen yang merusak jaringan otot dan jkaringan lunak lainnnya.

D. Penentuan Penggunaan Tipe Fiksasi

  1. Posisi fraktur
  2. Panjang dan bentuk fraktur
  3. Ukuran fraktur
  4. Tekstur dan kekuatan otot diarea sekitar fraktur. (Mc. Rae, 1994)

E. Keuntungan Fiksasi Internal

  1. Memberikan kesempatan yang lebih baik untuk reduksi dan penyambungan tulang (Mc. Ray, 1994)
  2. Memberikan kesempatan mobilisasi awal dan latihan yang lebih cepat
  3. Mobilisasi dan latihan yang lebih cepat komplikasi fraktur dapat diminimalkan bahkan dihilangkan.
  4. Pasiewn dapat pulang kerumah lebih awal dengan ctatan pulang agar pasien tetap melakukan latihan-latihan yang diberiakan selam dirumah sakit dan menjauhkan larangan-larangan yang diberikan seperti tidak boleh melkukan pembebanan yang maksimal pada daerah fraktur.

F. Komplikasi Fiksasi Internal

  1. Komlikasi infeksi, merupakan penyebab osteotis yang paling sering ditemukan, hal ini tidak diakibatkan logam yang digunakan tapi akibat pembedahan yang tidak memenuhi standart aseptic dan antiseptic.
  2. Non union, hal ini lebih sdering ditemukan pada tulang lengan atau tungkai bawah dimana apabial hanya salah satu tulang yang patah dan tulang yang sebelahnya tetap utuh.
  3. Kegagalan implant, diakibatkan implant yang ditananamkan kropos dan penyatuan tulang yang patah belum terjadi. Apabila ditemukan rasa nyeri yang hebat pada fraktur harus diwaspadai dan ditangani.
  4. Fraktur tulang diakibatkan karena pelepasan implant yang terlalu cepat, waktu yang paling cepat pelepasan implant minimal satu tahun dan satu setengah tahun dan yang paling aman setelah dua tahun setelah masa pelepasan tulang dalam kondisi lemah diperlukan perwatan dan perlindungan.

G. Teknik Tindakan ORIF

  1. Banyak metode yang digunakan tergantung jenis kondisinya fraktur dan perangkat yang digunakan juga dengan alasan yang sama.
  2. Bila menggunakan plate, memungkinkan plate harus dipasang pada permukaan yang dapat diregangkan yaitu pada sisi tulang yang cembung.
  3. Bila menggunakan paku intermedular digunakan paku yang dapat dikuncikan dengan sekrup melintang. (Muller dkk, 1991)

3. Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kondisi Post ORIF Open Fraktur Tibia plateu Dextra dengan Plate and Screw

  1. Pemeriksaan Subjektif

a.Anamnesis

Anamnesis bertujuan untuk memperoleh informasi akurat dan relevan, sehingga pertanyaan harus jelas dan mudah dijawab. Anamnesis dikelompokkan menjadi: a. Heteroanamnesis, tanya jawab pada orang-orang/keluarga pasien yang mengetahui kondisi pasien, b. Autoanamnesis, tanya jawab secara langsung kepada pasien, dapat dibagi menjadi: 1) anamnesis umum, 2) anamnesis khusus.

Keluhan utama mengenai keluhan yang mendorong pasien mencari pertolongan termasuk didalamnya lokasi keluhan, onset, penyebab, faktor – faktor yang memperberat atau memperingan, irritabilitas dan derajat berat keluhan, sifat keluhan dalam 24 jam, dan stadium dari kondisi.

Riwayat Penyakit Sekarang berupa perjalanan penyakit dan riwayat pengobatan

  1. Pemeriksaan Objektif

a. Tanda-tanda vital

Tanda – tanda vital adalah tanda / gambaran pada tubuh seseorang yang penting untuk diketahui sehingga kita dapat mengetahui keadaan tubuh seseorang,pemeriksaan tanda vital meliputi

1)      Tekanan darah

2)      Denyut nadi

3)      Frekuensi pernafasan

4)      Temperature

5)      Tinggi badan

6)      Berat badan

b. Inspeksi

Inspeksi adalah pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati. Hal-hal yang bisa dilihat/diamati seperti keadaan umum, kondisi berat badan, sianosis, pucat, bentuk thorak,bentuk vertebra,gerakan – gerakan pernafasan abnormal,kontraksi otot bantu pernafasan, clubbing finger. Macam-macam inspeksi ada 2, yaitu:

1)      Inspeksi statis: yaitu melakukan inspeksi dimana penderita dalam keadaan diam.

2)      Inspeksi dinamis: yaitu melakukan inspeksi dimana penderita dalam keadaan bergerak, contoh waktu penderita bernafas,beraktivitas.

c. Palpasi

Palpasi adalah cara pemeriksaan dengan jalan meraba, menekan dan memegang organ/bagian tubuh pasien untuk mengetahui tentang adanya spasme otot, nyeri tekan, suhu, tumor/oedema, kontur organ , tingkat kesamaan ekspansi, atropi, kontraktur

d. Perkusi

1)      Dull bila ada kolaps/konsolidasi

2)      Stoney dull bila ada efusi pleura

3)      Sonor (jaringan paru yang normal)

4)      Hypersonor (hyperinflasi, pneumothorax)

5)      Redup (konsolidasi,atelektasis)

6)      Pekak (pleural effusion)

e. Auskultasi

Proses untuk mendengarkan dan menginterpretasikan suara yan timbul dalam thorak dengan menggunakan alat bantu “stethoscope”. Dipergunakn untuk mengidentifikasi gangguan ventilasi atau gangguan pembersihan jalan nafas ( lokasi mukus) dan menilai efektifitas terapi, serta untuk mendengarkan suara jantung.

f. Pemeriksaan Gerak Dasar

1) Pemeriksaan Fungsi Gerak Aktif; untuk menentukan kekuatan otot, ROM aktif, nyeri dan koordinasi gerak.

2) Pemeriksaan Fungsi Gerak Pasif; untuk menentukan ROM pasif (normal, hypomobilitas, hypermobilitas), nyeri, end feel, bunyi, tonus dan panjang otot.

3) Pemeriksaan kontraksi isometrik; untuk menelaah rasa nyeri (provokasi myotendinogen) dan kelemahan otot (gangguan neuromuskular).

g. Pemeriksaan Khusus antara lain; Palpasi yaitu untuk memeriksa temperature local, nyeri tekan, dan bengkak Antropometri yaitu untuk memeriksa adakah perbedaan panjang segmen, lingkar segmen, oedem, atropi otot.

h. Pemeriksaan penunjang, seperti sinar X, MRI, CT scan, laboratorium.

i. Muscle Test (Kekuatan Otot) adalah suatu usaha untuk menentukan atau mengetahui kemampuan seseorang dalam mengkontraksikan group ototnya secara voluntary.

Nilai:

0 = Kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi

1 = Kontraksi otot bisa dipalpasi tapi tidak ada gerakan sendi

2 = Subyek bergerak dengan LGS penuh tanpa melaqwan gravitasi

3 = Subyek bergerak penuh dengan LGS penuh melawan gravitasi      tanpa

melwan tahanan

4 = Subyek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi dan tahanan sedang (moderat)

5 = Subyek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi dan tahanan maximal.

j. Anthropometri (Pengukuran komposisi tubuh): Pengukuran lingkar segmen tubuh yaitu pada anggota gerak bawah untuk menetahui ada tidaknya udem. Dilakukan dengan menggunakan meteran (meter line), pelaksanaan pengukuran lingkar anggota gerak ini menggunakan patokan lingkar lutut yaitu tuberusitas tibia.

k. ROM Test: menggunakan goniometer untuk mengetahui luas lingkup gerak sendi yang bisa dilakukan oleh suatu sendi.

l.  Pemeriksaan nyeri: dengan skala VAS, cara pengukuran derajat nyeri dengan menunjukkan satu titik pada garis skala nyeri (0-10cm). Salah satu ujung menunjukkan tidak nyeri dan ujung yang lain menunjukkan nyeri yang hebat. Panjang garis mulai dan tidak nyeri sampai titik yang ditunjuk menunjukkan besarnya nyeri.

3. Problem Fisioterapi

Asuhan pelayanan fisioterapi yang diberikan pada penderita post ORIF open  fraktur tibia plateu dextra dengan plate and screw dilakukan secara bertahan susuai dengan problem yang ditemukan pada saat dilakukan assesment. Untuk itu sebelum melakukan intervensi fisioterapi, hendaknya kita mengetahui problem fisioterapi apa saja yang ada pada penderita dengan post ORIF open fraktur tibia plateu dextra dengan plate and screw

  1.  Terdapat udema disekitar knee dan ankle
  2. Adanya nyeri tekan dan gerak pada daerah cidera
  3. Adanya penurunan LGS knee
  4. Kelemahan otot –otot flexor dan extensor knee
  5. Adanya spasme otot quadriceps

4. Diagnosa Fisioterapi

Impairment (gangguan), functional limitation (Keterbatasan fungsi), dan disability/participation restriction (ketidakmampuan) yang menyebabkan kecacatan.

5. Rencana Intervensi

a. Target dan tujuan intervensi terapi dibuat setelah diagnosa fisioterapi ditetapkan berdasarkan penemuan atau hasil pemeriksaan yang ada.

b.  Rencana intervensi fisioterapi meliputi:

(1) Tujuan jangka pendek: Mengurangi udema, mengurangi nyeri, mengurangi spasme, meningkatkan dan memelihara ROM, meningkatkan dan memelihara kekuatan otot.

(2)   Tujuan jangka panjang: meningkatkan, mengembangkan dan memelihara kemampuan fungsional ADL pasien secra mandiri

c. Rencana intervensi

(1) Terapi latihan: passive movement, aktif movement

(2) Transfer dan ambulasi

(3) Edukasi

6. Metode intervensi

a. Terapi latihan: Terapi latihan merupakan jenis terapi yang didalam pelaksanaannya menggunakan latihan-latihan tubuh, baik secara pasif maupun aktif (Kisher, 1996). Appley (1995) berpendapat bahwa penanganan pasca operasi dengan mobilisasi sedini mungkin betujuan untuk mengembalikan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional serta memperbaiki fungsi tubuh.

Modalitas fisioterapi yang digunakan dalam kasus ini adalah terapi latihan berupa:

1. Passive movement/ gerakan pasif

Pasive movement adalah suatu latihan yang dilakukan dengan gerakan yang dihasilkan oleh kekuatan dari luar tanpa adanya kontraksi otot pasien ( Kisner, 1996). Tehnik yang digunakan adalah relaxed passive movement , yaitu pemberian gerak pasif sampai batas nyeri pasien tanpa pemberian kekuatan tambahan dari terapis. Menurut Gartland (1996) relaxed passive movement bermanfaat untuk mempertahankan LGS dan mencegah kontraktur otot.

2. Active movement/ gerakan aktif

 Active movement adalah  gerakan yang timbul dari kontraksi otot pasien sendiri secara volunteer atau sadar ( Kisner, 1996). Dengan gerakan aktif akan menimbulkan kontraksi otot, meningkatkan sirkulasi darah dan nutrisi ke jaringan lunak di sekitar fraktur termasuk fraktur itu sendiri sehingga proses penyambungan tulang akan berlangsung lebih baik.

b. Transver dan ambulasi: salah satu prinsip penanganan pasca operasi yaitu mobilisasi dini mungkin untuk mencegah komplikasi tirah baring lama (Appley, 1995). Latihan transfer dilakukan bertahap yaitu mulai dari tidur terlentang lalu duduk long sitting dengan bantuan tumpuan pada kedua elbow saat bangun kemudian kedua lengan lirus kebelakang menyangga tubuh setelah itu lakukan bridging untuk menggeser keduduk ongkang-ongkang dengan kedua tungkai digeser menuju ketepi bed dan menggantung dapat juga tungkai yang sakit dibabtu oleh terapis lau gerakan badan maju hingga kaki yang sehat menyentuh lantai dan kaki yang sakit menggantung dan lakukan latihan berdiri dengan kruk disertai latihan keseimbangan memberikan dorongan kesamping kanan kiri dan kedepan belakang juga kaki yang sakit diayun ayunkan dengan posisi menggantung. Latihan jalan dengan kruk dapat diberikan jika pasien telah mampu dan keseimbangan telah membaik dengan metode Non Weight Bearing (NWB), dengan cara pasien latihan jalan dengan kedua tangan menumpu pada kruk dan dimulai dari kruk kaki yang sehat sedang kaki yang sakit digantung.

c. Edukasi:

(1) Agar melakukannya sendiri dalam bentuk beraktif pada otot-otot yang tidak mengalami kelemahan dan latihan gerak pasif dengan bantuan keluarga, pada otot yang mengalami kelemahan seperti yang telah dianjurkan terapi

(2) Memberikan motivasi pada pasien dan keluarga pasien supaya rajin berlatih sesuai program yang diberikan terapis.

(3) Disarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat dulu, yang menumpu pada kaki terlalu lama terutama kaki yang sakit jangan menumpu dahulu, jika jalan diusahakan jangan ada trap-trapan dan jangan ditempat yang licin.

(4) Pada saat jalan dengan kruk, hendaknya tungkai yang sakit digantung (NWB) selama sekitar 4-5 minggu atau dapat dilihat hasil foto ronsen apakah sudah terjadi penyambungan tulang yang patah/fraktur atau tulang sudah cukup kuat untuk menyangga berat tubuh, kemudian setelah itu dapat dilanjutkan dengan metode Partial Weight Bearing (PWB) yaitu kaki yang sakit menumpu tapi tidak penuh melainkan sebagian. Setelah menapak penuh dan dipastikan tulang tersebut sudah benar-benar kuat kemudian diteruskan dengan Full Weight Bearing (FWB). Diharapkan keluarga membantu memberi suport agar semangat dalam berlatih.

7. Rencana Evaluasi

Sesuai dengan problematik fisioterapi

8. Prognosis berisi perkiraan mengenai kondisi pasien

Quo ad vitam               : mengenai perkiraan hidup mati pasien

Quo ad sanam              : mengenai perkiraan sembuh tidaknya penyakit

Quo ad fungsionam      :mengenai perkiraan kemampuan fungsi    aktivitas sehari – hari

Quo ad cosmeticam      : mengenai perkiraan  penampilan pasien

9. Penatalaksanaan Fisioterapi

berupa tindakan yang dilakukan terapis kepada pasien

10. Evaluasi hasil terapi

Evaluasi adalah tindakan untuk membandingkan data sebelum dan sesudah terapi agar lebih mudah dan lebih cermat dalam mengetahui perkembangan terapi.

BAB III

LAPORAN KASUS

Tanggal pembuatan laporan 21 juli 2007

Kondisi : FT Muskuloskeletal

A. Keterangan Umum Penderita

Nama                      : Tn. Sukron Maenggal

Umur                      : 34 tahun

Jenis kelamin          : Laki-laki

Hobi                        : Olah raga

Agama                    : Islam

Pekerjaan                : Wiraswasta

Alamat                    : Dorokondang 3/1 lasem, Rembang

  1. A.    Data-data Mesis Rumah Sakit
    1. Diagnosis Medis

Open fraktur tibial plateu dextra, fraktur phalanx 1-3 pedis dextra dan CF. Femur 1/3 tengah dextra.

  1. Diagnosis Klinis

Pasien tidak bisa menggerakkan atau menekuk lutut kanan.

  1. Medika Mentosa
    1. obat premedikasi : sufasatropin

fortanes

pytaidin

buvanes

  1. obat injeksi : ephedrin

linodex 5%

anua 25 ml

remapnin

  1. Hasil Lab

Leukosit               : 20,200/mm

Hemoglobin         : 12,7 Gr/dl

Laju endap darah : 12 /jam

HbsAg                  : Negatif

  1. Laporan Operasi

Tanggal 05 juli 2007

Dx. Pra Bedah                        :

Open fraktur tibial plateu dextra, fraktur phalanx 1-3 pedis dextra, dan CF. femur 1/3 tengah dextra.

Dx. Pasca Bedah         :

Idem

Macam Tindakan        : ORIF dengan plate and screw dan kischner.

  1. Foto Rotgen

Tanggal 21 juni 2007

Tampak fraktur spiral tibia plateu dextra

Tampak fraktur phalanx 1-3 pedis dextra

Tampak fraktur CF. femur1/3 tengah dextra

Tanggal 05 juli 2007

Tampak Pemasangan internal fiksasi plate and screw pada os tibia dan os femur serta pemasangan kischner pada os palanx.

  1. B.     Segi Fisioterapi
    1. Pemeriksaan Subyektif
      1. Anamnesis

Autoanamnesis dan heteroanamnesis:

Keluhan Utama

Nyeri pada luka incisi kaki kanan didaerah 1/3 proximal tibia dan kesulitan untuk menggerakan tungkai kanan, terutama untuk menekuk. Pasien juga mengeluh rasa baal pada tungkai bawah sisi medial , rasa panas pada lutut, dan gatal-gatal sekitar daerah incisi.

Lokasi keluhan yaitu pada 1/3 proxsimal tibia.

Onset yaitu Dimulai sejak pada tanggal 21 juni 2007 ditabrak  sepeda motor oleh karena kecelakaan lalu lintas, kemudian pasien tidak bisa jalan dan dibawa keRSO tanggal 21 juni 2007. Dilakukan operasi pada tanggal 05 juli 2007.

Faktor-faktor yang memperberat yaitu Pada saat menggerkkan lutut kanan.

Faktor-faktor yang memperingan yaitu pada saat tidur terlentang

Sifat keluhan dalam 24 jam yaitu dinamis

Stadium dari kondisi yaitu kronis

1)      Riwayat Penyakit Sekarang

Pada tanggal 21 juni 2007 pasien mengalami kecelakaan ditabrak sepeda motor, kemudian dibawa keRSO disurakarta untuk mendapatkan tindakan dan pertolongan pertama. Setelah mengetahui bahwa pasien mengalami perpatahan tulang pada bagian 1/3 proxsimal tibia, 1/3 tengah femur, dan phalanxz kaki kanannya, kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil diagnosisnya adalah open fraktur tibial plateu dextra, fraktur phalanx 1-3 pedis dextra, dan CF. femur 1/3 tengah dextra. Kemudian dilakukan operasi pada tanggal 05 juli 2007 pemasangan ORIF dengan plate and screw ditibia proxsimal dan femur tengah, dengan kischner diphalanx 1-3. kemudian pasien mengalami rawat inap.

2)      Riwayat Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama seperti pasien.

3)      Status Sosial

4)      Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak memiliki hipertensi, penyakit jantung, DM, gangguan paru (asma), tetapi memiliki riwayat trauma.

  1. Pemeriksaan Objektif

1)      Pemeriksaan tanda vital

a)      Tekanan darah       : 120/80 mmHg

b)      Denyut nadi          : 88 x/menit

c)      Frek. Pernafasan   : 16 x/menit

d)     Temperatur            : 37 0 C

e)      Tinggi badan         : 175 cm

f)       Berat badan           : 65 kg

2)      Inspeksi

Statis :

a)      KU baik

b)      Tungkai dextra dipasang elastis bandage

c)      Terdapat oedema pada patella dextra

d)     Tampak tropic change pada tungkai bawah

e)      Tidak atropi dan decubitus

f)       Saat pasien istirahat tidak menahan nyeri

Dinamis :

a)      Tampak ekspresi wajah pasien kesakitan saat lutut kanannya di pasifkan oleh terapis

b)       Pasien jalan menggunakan kruk (NWB)

c)      Gangguan gerak pada hip, knee, dan phalanx dextra

3)      Palpasi

a)       Adanya nyeri tekan pada pada daerah cidera

b)      Suhu lokal pada daerah cidera (lutut kanan) lebih tinggi dari daerah yang sehat

c)       Adanya spasme otot gastrocnemius kanan

d)      Tidak ada pitting oedema

e)       Terdapat tropic change disekitar daerah tungkai bawah dan ankle

4)      Perkusi

5)      Auskultasi

6)      Gerakan Dasar

a)      Gerak pasif

1. AGB Sinistra

Hip     : Mampu untuk digerakkan untuk arah gerakkan flexi,

extensi, abduksi, adduksi, exorotasi dan endorotasi full ROM dan tidak ada nyeri

Knee : Mampu untuk digarakkan fexi, extensi full ROM dan tidak ada nyeri

Ankle : Mampu untuk digerakkan untuk arah gerakkan dorsi fleksi, plantar flexi, eversi dan inversi full ROM dan tidak ada nyeri

2. AGB Dextra

Hip     :  Belum mampu untuk digerakkan kearah flexi,

extensi, abduksi, adduksi, exorotasi dan endorotasi karena masih nyeri

Knee    : Mampu untuk digarakkan flexi tapi tidak full ROM, karena pasien masih merasakan nyeri

Ankle  : Mampu untuk digerakkan untuk arah gerakkan dorsi fleksi, plantar flexi, eversi dan inversi tidak full ROM dan tidak ada nyeri

b) Gerak aktif

1. AGB Sinistra

Hip     : Mampu untuk menggerakkan untuk arah gerakkan flexi,

extensi, abduksi, adduksi, exorotasi dan endorotasi full ROM dan tidak ada nyeri

Knee : Mampu untuk menggerakkan flexi, extensi full ROM dan tidak ada nyeri

Ankle : Mampu untuk menggerakkan untuk arah gerakkan dorsi fleksi, plantar flexi, eversi dan inversi full ROM dan tidak ada nyeri

2. AGB Dextra

Hip     :  Belum mampu   melakukan gerakan kearah flexsi,

extensi, abduksi, adduksi, exorotasi dan endorotasi karena masih ada nyeri

Knee    : Mampu untuk menggerakkan flexi, tapi tidak sampai full ROM, karena pasien mengeluh nyeri

Ankle  : Mampu untuk menggerakkan untuk arah gerakkan dorsi fleksi, plantar flexi, eversi dan inversi tidak full ROM dan tidak ada nyeri

c) Gerak isometrik melawan tahanan

AGB Dextra

Knee    : Belum mampu gerak isometrik melawan tahanan dari terapis untuk semua gerakkan

Ankle : Mampu gerak isometrik melawan tahanan minimal dari terapis untuk semua arah gerakkan

7)      Muscle Test (kekuatan otot)

Tidak dilakukan

8)      Antropometri test

Tidak dilakukan

9)      ROM Test

Tidak dilakukan

10)   Pemeriksaan nyeri

Menggunakan skala VAS ( Verbal Analogue Scale)

0                                                                              10

keterangan :

0  : Tidak ada nyeri sama sekali.

10  : Nyeri  tak tertahankan.

Nyeri diam  : 3

Nyeri tekan : 5

Nyeri gerak : 7

11)  Kognitif, intra personal dan inter personal

Kognitif            : Baik, pasien mampu menceritakan kronologis kejadian trauma dengan baik, mampu menjawab pertanyaan terapis, dan mampu mengingat memori jangka panjang dan jangka pendek dengan baik

Intra personal    : Pasien mampu menerima keadaan dirinya dan mempunyai keinginan serta motivasi yang tinggi untuk sembuh

Inter personal    :  pasien dapat bekerja sama dengan terapis, pasien menjalankan latihan yang diajarkan oleh terapis, dan mampu melaksanakan program dengan baik.

12)  Pemeriksaan Kemampuan Fungsional

  1. Kemampuan fungsional dasar :

-          pasien mampu menggerakan pergelangan kakinya ke segala arah tanpa adanya nyeri

-          pasien belum mampu menekuk lututnya tanpa bantuan terapis

  1. Kemampuan fungsional aktifitas :

-          pasien sudah mampu duduk tanpa bantuan

-          pasien sudah mampu miring kekiri tanpa bantuan

-          pasien sudah mampu turun bed dengan bantuan

-          pasien sudah mampu latihan jalan dengan kruk (NWB)

13)  Pemeriksaan Spesifik.

Tidak dilakukan

14)   Mekanisme terjadinya permasalahan ( underlying process)

Pasien adalah seorang laki-laki berusia 34 tahun yang memiliki seorang istri dan dua orang anak laki-laki, pasien bekerja sebagai wiraswasta. Pada tanggal 21 juni 2007 mengalami kecelakan lalu lintas ditabrak sepeda motor, pasien terjatuh dan tidak bisa jalan kemudian pasien dibawa ke RSO. PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA pada tanggal 21 juni 2007. Pasien menjalani rawat inap dan operasi pada tanggal 05 juli 2007.

Fraktur dan mekanisme terjadinya fraktur tibia plateu

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas dari tulang baik secara lengkap maupun tidak lengkap (Adam, 1992). Fraktur juga bisa lebih dari sekedar patahnya kontinuitas tulang karena pada fraktur yang disebabkan oleh benturan yang kuat dari luar juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak sekitar fraktur seperti kerusakan syaraf, pembuluh darah, tendon otot maupun ligament.

Fraktur tibia plateu merupakan kasus yang sering menimbulkan komplikasi sekunder seperti kelainan sendi lutut dan instabilitas sendi lutut. Sehingga akan menyebabkan gangguan fungsi sendi dan disability setelah cidera. (Appley, 1995).

Kekakuan sendi lutut dan atropi otot penggerak lutut akan mengganggu aktifitas fungsional pasien, sehingga perlu penanganan yang serius yang melibatkan beberapa disiplin ilmu dokter, ortopedi, dan fisioterapi.

Dengan modalitas fisioterapi berupa terapi latihan diharapkan dapat mengembalikan fungsi dan gerak pada cidera setelah operasi.

Karena setelah dilakukan operasi oleh dokter ortopedi pasti tidak lepas dari beberapa komplikasi post op, antara lain : oedem, penurunan kekuatan otot penggerak lutut, keterbatasan LGS yang akan mengakibatkan penurunan fungsi dan gerak pada sendi lutut.

Prinsip terapi adalah:

a. Membatasi kerusakan jaringan lunak dan mempertahankan penutup kulit

b. Mencegah atau sekurang kurangnya mengetahui pembengkakan kompartemen

c.   Memperoleh penjajaran (aligment) fraktur

d.   Untuk memulai pembebanan dini (pembebanan membabtu penyembuahan)

e.   Mulai gerakan sendi secepat mungkin

Bila fraktur tibia berdiri sendiri, diperlukan immobilisasi dan bila fraktur dengan displacement perlu dilakukan reposisi.

  1. Diagnosis Fisioterapi

1)      Impairment.

Adanya nyeri diam, nyeri tekan dan nyeri gerak pada daerah cidera

Adanya oedema disekitar knee dan ankle

Adanya spasme otot quadriceps kanan

Adanya penurunan LGS knee

Kelemahan otot-otot flexor dan extensor knee

Berpotensi terjadi atropi dan kontraktur

2)      Functional limitation.

Keterbatasan aktivitas yaitu berdiri dan berjalan secara mandiri karena adanya nyeri incisi pada 1/3 proxsimal tibia.

Penurunan kemampuan jongkok-berdiri dan aktivitas toileting secara mandiri.

Tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya.

3)      Disability / Participation Restriction

Kesulitan berpartisipasi dalam kegiatan bersosialisasi dilingkungan masyarakat.

Ketidak mampuan untuk bekerja kembali sebagai wiraswasta oleh karena open  fraktur tibia plateu dextra.

  1. Program Fisioterapi

1)      Tujuan Fisioterapi

a)      Jangka pendek

Mengurangi nyeri pada daerah incisi

Mengurangi odema disekitar knee dan ankle.

Mengurangi spasme otot quadriceps kanan

Meningkatkan LGS knee

Meningkatkan kekuatan otot flexor dan extensor knee

Mencegah atropi dan kontraktur

b)      Jangka panjang

Meninngkatkan kemampuan fungsional tungkai kanan

Mengembaliakan aktivitas fungsional pasien secara maximal dan vocational

2)      Teknologi Intervensi

a)      Teknologi alternatif

(1) TENS

(2) IR

(3) Terapi latihan

(4) Change position

(5) Massage

(6) Evaluasi dan pumping exercise

b)      Teknologi terpilih

(1) Terapi Latihan

(2) Transver dan ambulasi

c)      Teknologi yang dilaksanakan

(1) Terapi Latihan :

- passive movement

- latihan gerak aktif, pasif

- standing exercise

- walking exercise

  1. Rencana Evaluasi

a)    Nyeri dengan skala VAS

b)   Oedema dengan antropometri

c)    ROM dengan goneometer

d)   Kekuatan otot dengan MMT

  1. Prognosis

Quo ad vitam                         : Baik

Quo ad sanam            : Baik

Quo ad fungsionam   : Baik

Quo ad cosmeticam   : Sedang

  1. Pelaksanaan Fisioterapi

Pada tanggal 18 Juli 2007

TERAPI LATIHAN :

  1. Latihan gerak pasif (knee dan ankle dextra)

Pasien tidur terlentang, terapis menggerakkan tungkai kanan pasien secara pasif, gerakkan diulangi 2 sampai 8 kali.

Gerakannya :

-          knee : fleksi, ekstensi, endorotasi, eksorotasi

-          ankle : dorsal fleksi, plantar fleksi, inversi, eversi

  1. Latihan gerak aktif (knee dan ankle dextra)

Pasien tidur terlentang kemudian pasien melakukan gerak aktif.

Gerakannya :

-          knee : fleksi

-          ankle : dorsal fleksi, plantar fleksi, inversi, eversi

Saat pasien melakukan gerak fleksi terlihat keterbatasan gerak pada knee. Gerak AGA kanan kiri dan AGB kiri normal.

  1. Standing exercise

Posisi pasien duduk di tepi bed

Pelaksanaannya : pasien diminta menurunkan kedua tungkainya, sambil terapis memfiksasi lutut kanan pasien.terapis teruis memonitor raut wajah pasiendan menanyakan apakah pasien menjadi pusing atau tidak.serta kontak tangan terapis dengan pasien selalu dilakukan, untuk mengetahui apakah pasien terjadi perubahan suhu badan atau tidak. Jika pasien merasa pusing dan suhu badan dingin latihan harus dihentikan.

  1. Walking exercise

Posisi pasien berdiri dengan bantuan kruk.

Pelaksanaan : sebelum latihan berjalan, pasien harus benar-benar siap. Setelah itu kedua kruk dimajukan terlebih dulu ke depan. Diikuti dengan kaki yang sehat dan kaki yang sakit tetap menggantung. Pasien diminta jalan mengitari ruangan dengan metode NWB. Dan latihan dihentikan setelah pasien merasa lelah.

Edukasi :

1)      Pasien diminta untuk mengganjal tungkai bawahnya (ankle) dengan bantal (elevasi) dan menggerak-gerakkan anklenya sesering mungkin.

2)      Pasien disarankan tidak menapakkan kaki kanannya saat berjalan

Pada tanggal 19 juli 2007 TERAPI II

Sama dengan terapi hari pertama.

  1. Evaluasi

Tidak dilakukan

  1. Hasil Terapi Akhir

Setelah diberikan terapi pada pasien yang bernama Bpk. Sukron sebanyak 2 kali, maka hasil yang didapat deri sebelum dan sesudah terapi sebagai berikut yaitu :

Keluhan nyeri berkurang.

Terdapat peningkatan kemampuan fungsional

Kondisi umum pasien baik

 

 

 

Fracture Femur

Fractur Femur

Tingkat kecelakaan lalu lintas di kota besar tetrbilang cukup tinggi. Dimana kecelakaan tersebut dapat menimbulkan kerugian yang cukup tinggi bagi korban kecelakaan lalu lintas tersebut. Akibat yang ditimbulkan bagi korban itu sendiri dapt berupa efek fisik dan psikis. Dari segi fisik tentunya kecelakaan dapat menyebabkan timbulnya luka pada setiap jaringan tubuh yang terkena trauma dari kecelakaan lalu lintas baik secara langsung maupun tidak langsung. Efek langsung dari trauma tersebut dapat berupa adanya fraktur, luka terbuka ataupun kerusakan pada organ dalam tubuh yang dapat juga menyebabkan kematian. Sedangkan efek psikis dari kecelakaan lalu lintas dapat berupa trauma ataupun rasa takut.

Fraktur sebagai akibat dari trauma langsung dapat terjadi pada setiap tulang pembentuk tubuh tergantung dari penyebab dan mekanisme terjadinya trauma. Fraktur adalah suatu kondisi terputusnya kontinuitas dari jaringan tulang yang diakibatkan oleh trauma langsung atau tidak langsung maupun patologis. Fraktur dapat bersifat tunggal maupun multiple dimana pada fraktur ini dapat mengenai beberapa tulang yang terjadi secara bersamaan dan dapat menimbulkan beberapa macam masalah.

Pada laporan kasus ini yang terjadi adalah Post ROI (removele Of Inplate)fraktur femur dextra 1/3 distal, fraktur cruris 1/3 tengah dan post riliase knee dextra, dimana merupakan suatu tindakan operasi untuk melepas kembali implan yang sudah terpasang ditulang yang berfungsi sebagai fiksasi waktu fraktur dan dilakukan riliase guna untuk membebaskan perlengketan jaringan yang ada pada lutut. Adapun masalah-masalah yang ditimbulkan dari post operasi adalah adanya nyeri, oedema, spasme, keterbatasan gerak, kelemahan otot, deformitas, dan gangguan fungsional dari anggota gerak serta kemungkinan terjadinya komplikasi sekunder berupa miositis ossifikan, avaskuler nekrosis dan lain sebagainya.

Fisioterapi merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu serta masyarakat untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi sepanjang daur kehidupan dan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutik, mekanis), pelatihan fungsi dan komunikasi.

Beberapa latar belakang masalah tersebut, maka kami tertarik untuk mencoba mengkaji dan memahami mengenai penatalaksanaan terapi latihan pada kondisi post ROI fraktur femur dextra 1/3 distal, fraktur cruris 1/3 tengah dextra dan post riliase knee dextra. Adapun jenis dari terapi latihan tersebut yaitu : 1) Static kontraksi, 2) Rilex pasive movement, 3) Force pasive movement, 4) free aktive movement, 5) Assisted aktive movement, 6) Resisted aktive movement, 7) Streching, 8) Latihan jalan.

Toracho Outlet Syndrome (TOS)

Toracho Outlet Syndrome (TOS)

Kasus :

 seorang ibu rumah tangga yang mempunyai tubuh cukup besar (over weight). Oleh dokter  dinyatakan menderita TOS (Thoracic Outlet Syndrome). Lengan kanan sering merasa kesemutan , hal ini sudah dirasakan sudah 2 bulan yang lalu. Buat mangement fisioterapinya!

Pendahuluan

Thoracic Outlet Syndrome adalah nyeri bahu, lengan yang disebabkan penekanan struktur neurovascular (arteri/vena subclavia, arteri/vena axillaris, pleksus brachialis) pada “Cervical Thoracic dorsal- Outlet”, yang dibatasi oleh tulang iga I (costa I), dengan bagian depn oleh sternum proximal dn bagian belakang oleh T1

 

MANAGEMENT  FISIOTERAPI

       I.            Data base

Identitas penderita

Nama :Ny. X

Alamat : Jl. Pulang III/7

Umur : 32 th

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Agama : Islam

Dokter : Sri Surti Turi, dr. Sp.RM

Fisioterapis : Tora Omi Susilo, Amd.FT

Tanggal : 31 Agustus 2008

Diagnosa dokter : TOS

 

    II.            Anamnesa

Keluhan Utama :

  • Nyeri bahu sebelah kanan
  • Lengan kanan sering merasa kesemutan,
  • Tangan kanan tidak dapat membawa barang terlalu berat
  • Leher susah menoleh dan kaku saat ditekuk ke samping kanan

 

RPS

  • Lengan sering merasa kesemutan sejak 2 bulan yang lalu
  • Rasa kesemutan menjalar sampai ke lengan bawah
  • Nyeri bahu saat melakukan aktivitas terutama saat menggendong anak
  • Pernah satu kali dibawa ke tukang pijat tradisional           keluhan berkurang

RPD

  • DM

RPK

  • ibu dari Ny. Indri menderita DM

RPE

  • Ibu rumah tangga dengan 2 orang anak dan 1 orang bayi berusia 6 bulan, kondisi ekonomi menengah ke bawah

 

 III.            Pemeriksaan fisik

Vital sign:

  • GCS : normal
  • Tensi : 120/80 mmHg
  • RR : 21x/menit
  • Nadi : 80x/menit
  • TB/BB : 155cm/70kg

Inspeksi

General

  • Irama goyang lengan kanan hilang
  • Postur tubuh gemuk
  • Berjalan mandiri/tanpa alat bantu

Lokal

  • Kepala cenderung lateral fleksi ke arah kanan

Palpasi

  • Nyeri tekan pada bahu sebelah kanan
  • Adanya spasme daerah leher
  • Kekenyalan otot berkurang

LGS

 

D

S

Kepala F:  0-30˚

R: 0-35˚

F:  0-45˚

R: 0-50˚

Bahu S: 40-0-100˚

F: 20-0-120˚

S: 50-0-180˚

F: 45-0-180˚

Elbow S: 0-0-120˚ S: 0-0-145˚
Forearm R: 35-0-40˚ R: 45-0-50˚
Wrist S: 50-0-60˚ S: 50-0-60˚

 

 

MMT

 

D

S

Lateral fleksor kepala

3

5

Rotator kepala

3

5

Fleksor bahu

3

5

Ekstensor bahu

3

5

Fleksor elbow

3

5

Ekstensor elbow

3

5

Pronator elbow

3

5

Supinator elbow

3

5

Fleksor wrist

3

5

Ekstensor wrist

3

5

 

Tes sensorik

  • parestesi pada bahu menjalar sampai lengan bawah sebelah kanan

 

Pemeriksaan reflek pada lengan kanan :

  • Pada tendon bisep  :
  • Pada tendon trisep :

 

Pemeriksaan fungsional :

  • Adanya keterbatasan ADL, terutama saat mengangkat beban dengan tangan kanan

Test khusus :

  • Syndrome scalenus

Adson test : berdiri rotasi&ekstensi kepala, abduksi lengan 30  ̊ maksimal, ekstensi shoulder, inspirasi dalam ditahan. (+) jika nyeri sepanjang lengan&tangan, nadi melemah.

Hasil (+)

  • Syndrome costo clavicula

Eden test : rotasi side flexi nec&trunk, extensi shoulder elbow. (+) jika nadi melemah.

Hasil (-)

  • Syndrome costoclavicula

Ross Test : berdiri, abduksi lengan 90  ̊, flexi elbow 90  ̊, retraksi shoulder, tangan dibuka&ditutup 15x. (+) jika ada cramp, rasa kaku, tdk mampu menguang gerakan 15x

Hasil (-)

  • Syndrome pectoralis

Wright manuever test : berdiri, abd lengan 90  ̊, ditahan beberapa detik. (+) jika terjadi nyeri sepanjang lengan&nadi melemah.

Hasil (-)

 

 IV.            Problem list

Kapasitas fisik :

  • Nyeri bahu sebelah kanan
  • Spasme pada leher
  • Keterbatasan LGS
  • Penurunan kekuatan otot lengan kanan

Kemampuan Fungsional

  • Adanya gangguan ADL, seperti menggendong anak, mandi, mengangkat beban berat.

Planning fisioterapi

  • Pemberian IR pada bahu sebelah kanan
  • Masase pada m. scalenus&otot-otot bahu untuk relaksasi
  • Stretching exercise pada m. scalenus
  • AROM
  • Aktif resisted
  • Edukasi :
  • Mengurangi beban pada bahu kanan
  • Posisi tidur serileks mungkin

 

  1.     V.        Initial plan

IR

  • Model single : 250 watt
  • Jarak : 35-45 cm
  • Dosis : 15 menit

Masase

  • Pada m. scalenus, otot-otot bahu

Stretching exercise

  • Pada m. scalenus

AROM

  • Kepala, bahu, elbow&wrist pada semua gerakan

Latihan aktif resisted

  • Pada kelompok ototyang mengalami kelemahan

Evaluasi

Sebelum terapi :

  • Nyeri pada bahu kanan
  • Spasme pada leher
  • Rasa kesemutan sepanjang lengan kanan
  • Keterbatasan LGS pada bahu&lengan kanan

 

 

Setelah 2 seri latihan :

  • Nyeri berkurang
  • Spasme berkurang
  • Rasa kesemutan berkurang
  • LGS meningkat

Edukasi :

  • Mengurangi beban pada bahu kanan
  • Posisi tidur serileks mungkin

 

 VI.            Progress note

Subjektif

  • Kesemutan pada lengan kanan berkurang
  • Spasme berkurang
  • Nyeri pada bahu sebelah kanan berkurang
  • Leher dapat menoleh ke kanan&ke kiri

Objektif

LGS

 

D

S

Kepala F: 0-40˚

R: 0-45˚

F: 0-45˚

R:0-50˚

Bahu S: 45-0-115˚

F: 30-0-125˚

S: 50-0-180˚

F: 45-0-180˚

Elbow S: 0-0-130˚ S:0-0-145˚
Forearm R: 40-0-45˚ R:45-0-50˚
Wrist S: 50-0-60˚ S:50-0-60˚

 

MMT

 

D

S

Lateral fleksor kepala

4-

5

Rotator kepala

4-

5

Fleksor bahu

4-

5

Ekstensor bahu

4-

5

Fleksor elbow

4-

5

Ekstensor elbow

4-

5

Pronator forearm

4-

5

Supinator forearm

4-

5

Fleksor wrist

4

5

Ekstensor wrist

4-

5

 

Tes sensorik : parestesi berkurang

Tes reflek :

Tendon bisep = N

Tendon trisep = N

Tes khusus : adson test (-)

Asesment

Setelah 1 seri terapi

  • Bu Indri mengalami kemajuan yang memuaskan
  • Nyeri bahu kanan telah banyak berkurang
  • Kemampuan ADL meningkat

Planning

Meneruskan terapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal

 

 

 

Stroke Tranfers and Ambulation

TRANSFERS

CERVICAL PAIN PATOFISIOLOGI

PATOFISIOLOGI NYERI LEHER DAN BAHU

PATOFISIOLOGI  NYERI  LEHER

DISAMPAIKAN OLEH:

 

dr. Prasetya Hudaya

Seminar, Kamis,5 November 2009, Riyadi Palace Hotel, Solo

PENDAHULUAN

Nyeri leher atau dikenal juga sebagai nyeri servikal, nyeri tengkuk atau cervical syndrome merupakan keluhan yang sering dijumpai di praktik klinik. Tiap tahun 16,6% populasi dewasa mengeluh rasa tidak enak di leher, bahkan 0,6% berlanjut menjadi nyeri leher yang berat. Incidence nyeri leher meningkat dengan bertambahnya usia. Lebih sering mengenai wanita daripada laki-laki dengan perbandingan 1,67:1.

            Meskipun dapat sebagai akibat adanya proses patologis pada jaringan lunak, namun lebih sering akibat kondisi yang berhubungan dengan cervical spine. Sumber nyeri leher yang berhubungan dengan cervical spine antara lain cervical spondylosis, radiculapathy atau kompresi pada radix saraf, myelopathy atau kompresi pada medulla spinalis cervical, cedera, iritasi pada otot-otot paraspinal.

             Mekanisme dari berbagai penyebab nyeri leher, tanpa adanya gejala radikuler atau myelopathy hingga saat ini masih belum jelas.

silahkan di klik pada subyek diatas

ANATOMI  FISIOLOGI

            Cervical spine terdiri atas 7 vertebra dan 8 saraf servikal. Fungsi utama leher adalah menghubungkan kepala dengan tubuh. Stabilitas kepala tergantung pada 7 buah vertebra servikal.

            Hubungan antara vertebra servikal melalui suatu susunan persendian yang cukup rumit. Gerakan leher dimungkinkan karena adanya berbagai pensendian, facet joint yang ada di posterior memegang peranan penting.

            Sepertiga gerakan fleksi dan ekstensi dan setengah dari gerakan laterofleksi terjadi pada sendi atlantooccipitalis (dasar tengkorak dengan VC1). Sendi atlantoaxialis  (VC1-VC2) memegang peranan pada 50% gerakan rotational. VC2 hingga VC7 memegang peranan pada dua per tiga gerakan fleksi dan ekstensi, 50% gerakan rotasi dan 50% gerakan laterofleksi.

Carpal Tanel Syndrome

BAB I    

PENDAHULUAN

 

            Pembangunan pada era globalisasi ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Demikian juga pembangunan bangsa Indonesia dalam bidang kesehatan merupakan usaha yang ditujukan untuk tercapainya  kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk supaya terwujud kesehatan yang optimal, untuk mewujudkan hal tersebut maka pemerintah mencanangkan kebijaksanan nasional mengenai pembanguan berwawasan kesehatan sebagai strategi nasional menuju Indonesia sehat 2010   (DepKes RI, 1999).

            Upaya kesehatan yang semula hanya berupa penyembuhan (kuratif) saja, secara berangsur-angsur berkembang, sehingga mencakup upaya peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang bersifat menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan dan dengan peran serta masyarakat (DepKes RI, 1999).

            Fisioterapi sebagai salah satu pelaksanaan pelayanan kesehatan ikut berperan dan bertanggung jawab dalam peningkatan derajat kesehatan, meliputi masalah gerak dan fungsi dengan kajian menyangkut aspek peningkatan (promotif), aspek pencegahan (preventif), aspek penyembuhan (kuratif), aspek pemulihan dan pemeliharaan (rehabilitatif) untuk mewujudkan program pemerintah yaitu Indonesia Sehat 2010 (DepKes RI, 1999).

A. Latar Belakang Masalah

Carpal tunnel syndrome merupakan sindroma pada pergelangan tangan yang terjadi akibat adanya tekanan terhadap nervus medianus (Rambe, 2004). Beberapa penyebabnya telah diketahui seperti trauma, infeksi, gangguan endokrin dan lain-lain (Rambe, 2004).

Tangan merupakan salah satu anggota gerak tubuh yang sangat penting karena fungsinya yang sangat komplek. Kalau dilihat dari segi anatomi pergelangan tangan dibentuk oleh bangunan tulang, otot, ligament, saraf dan pembuluh darah sehingga tangan dapat melakukan gerakan halus yang terkoordinir dan otomatis. Dengan keadaan tersebut bila tangan mengalami gangguan pada pergelangan tangan bisa dibayangkan betapa rumitnya masalah yang akan muncul karena sebagian besar pekerjaan dikerjakan dengan tangan.

Orang yang mempunyai resiko besar terkena carpal tunnel syndrome antara lain jenis pekerjaan yang banyak menggunakan tangan dalam jangka waktu panjang. Pekerjaan ini umumnya menggunakan kombinasi kekuatan dan pengulangan gerakan yang sama pada jemari dan tangan, seperti: pekerjaan yang sering menggunakan      komputer, dokter gigi, gitaris, guru, ibu rumah tangga dan pekerja lapangan yang mengoperasikan alat bervibrasi seperti bor dan juga mengendarai motor. Pada tahun 1998 insiden carpal tunnel syndrome kira-kira “ 515 per 10.000 populasi (Rambe, 2004).

Dalam proposal karya tulis ini penulis memilih kasus carpal tunnel syndrom karena penulis mengamati semua orang melakukan pekerjaan dengan menggunakan kedua tangan, jadi apabila kedua tangan terkena carpal tunnel syndrome maka aktivitas produksi akan terganggu.

Masalah yang muncul pada carpal tunnel syndrome adalah nyeri, parestesia, penurunan kekuatan otot dan kemampuan fungsional tangan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut banyak tekhnologi fisioterapi alternative yang tersedia, seperti : micro wave diathermy (MWD), short wave diathermy (SWD), ultra sound (US), infra red (IR), transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS) dan terapi latihan. Disini untuk pengurangan nyeri dan parestesia menggunakan modalitas ultra sonic yang menimbulkan efek mekanik dan termal.

             Mengingat adanya kelemahan otot, gangguan dalam beraktivitas akibat kekakuan sendi, dapat dilakukan dengan terapi latihan yang berupa resisted exercise untuk meningkatkan kekuatan otot dan kemampuan fungsional tangan.

B. Rumusan Masalah

             Berdasarkan permasalahan pada kondisi carpal tunnel syndrom, maka penulis dapat merumuskan masalah antara lain (1) Apakah ultra sonic dapat mengurangi nyeri pada carpal tunnel syndrome ? (2) Apakah ultra sonic dapat mengurangi parestesia pada carpal tunnel syndrome ? (3) Apakah terapi latihan dengan   resisted exercise  dapat meningkatkan kekuatan otot dan kemampuan fungsional tangan pada carpal tunnel syndrome?

C. Tujuan Penulisan

             Dalam penulisan proposal Karya Tulis Ilmiah ini tujuan yang ingin penulis capai adalah untuk mengetahui; (1) Manfaat ultra sonic terhadap pengurangan nyeri pada  carpal  tunnel syndrome, (2) Manfaat  ultra sonic terhadap pengurangan parestesia pada  carpal  tunnel syndrome, (3) Manfaat terapi latihan dengan resisted exercise terhadap peningkatan kekuatan otot dan kemampuan fungsional tangan pada carpal tunnel syndrome.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Kasus

            1. Anatomi Fungsional

            Pergelangan tangan dibentuk oleh beberapa tulang, otot, struktur persendian dan diinervasi oleh beberapa syaraf.

a.  Tulang pembentuk sendi pergelangan tangan

Tulang-tulang pada sendi pergelangan  tangan yaitu ada 2 deretan. Deretan pertama terdiri dari tulang radius dan ulna. Deretan yang kedua terdiri atas delapan  tulang carpalia yang tersusun dalam dua deretan. Tulang carpal deretan proksimal antara lain scapoideum, lunatum, triquetrum, dan pissiforme. Sedangkan bagian distal terdiri atas tulang trapezium, trapezoideum, capitatum, dan hamatum.

1)      Tulang scapoideum

Tulang ini berbentuk perahu dengan dataran proksimal yang konveks bersendi dengan tulang radius. Tulang ini mempunyai dataran sendi yaitu kearah ulnar bersendi dengan tulang hamatum, kearah distal bersendi dengan tulang trapezium, kapitatum, dan trapezoideum,  dan pada permukaan volar memiliki tonjolan yang disebut tuberositas scapoideum ( Putz R dan R. Pabst, 2005 ).

2)      Tulang lunatum

Tulang ini memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu kearah radial dengan tulang scapoideum, kearah ulnar dengan tulang triquetum, kearah distal dengan tulang kapitatum. Tulang ini mempunyai dataran proximal yang konveks yang bersendi dengan tulang radius, dan berbentuk kecil , seperti bulan sabit ( Putz R dan R. Pabst, 2005 ).

3)      Tulang  triquetrum

Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu kearah proximal dengan tulang radius, kearah radial dengan tulang lunatum, kearah ulnar dan volar berhubungan dengan tulang pisiforme yang melekat pada permukaan volar tulang triquetrum, dan kearah distal dengan tulang hamatum ( Putz R dan R. Pabst, 2005 ).

4)      Tulang pisiforme

Tulang  yang berbentuk kecil, agak bulat sebesar biji kacang ini melekat di dataran volar pada tulang triquetum ( Putz R dan R. Pabst, 2005 ).

5)      Tulang trapezium

Tulang ini mempunyai hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah vollar dengan trpezoidium dan terdapat tonjolan tulang yang disebut tuberositas osis trapezium, kearah proximal dengan tulang scapoideum, kearah distal dengan tulang metacarpal I dan II ( Putz R dan R. Pabst, 2005 ).

6)      Tulang trapezoideum

Tulang ini kearah radial mempunyai hubungan dengan tulang trapezium, ke arah ulnar dengan tulang kapitatum, ke arah distal dengan tulang metacarpal II, dan ke arah proximal berhubungan dengan tulang scapoideum ( Putz R dan R. Pabst, 2005 ).

7)      Tulang kapitatum

Memiliki bangunan bulat dan panjang sebagai kaputnya. Mempunyai hubungan dengan tulang lain yaitu ke arah radial berhubungan dengan tulang trapezoideum, ke arah proximal dengan tulang scapoideum dan lunatum. Kearah ulnar dengan tulang hamatum, dan kearah distal dengan tulang metacarpal II, III, dan  IV ( Putz R dan R. Pabst, 2005 ).

8)      Tulang hamatum

Memiliki hubungan dengan tulang lain yaitu kearah proximal dengan tulang triquetum, kearah radial dengan tulang kapitatum, kearah distal dengan metacarpal  IV dan V. Dan kearah volar memiliki bangunan seperti lidah yang disebut hamalus ossis hamati ( Putz R dan R. Pabst, 2005 ).

Pada os scaphoideum dan os trapezium yang masing-masing mempunyai tonjolan tulang pada bagian volarnya membentuk eminentia carpi radialis. Disebelah ulnarnya terdapat eminentia carpi ulnaris yang dibentul oleh os pisiforme dan hamalus ossis hamati.

Gambar 1

Tulang-tulang pergelangan tangan ( Putz R dan R. Pabst, 2005 )

b.  Ligamen

Ligamen collateral carpi ulnar yang membentang dari proceccus styloideus ulna menuju ke tulang triquetum. Ligamen collateral carpi radialis yang membentang dari processus stiloideus radii menuju ke tulang scapoideum dan ligamen intercarpal yang terdiri dari ligamen  interlaveum volare dan dorsale, ligamen interseum dan ligamen carpi arquatum.

Gambar 2

Potongan transversal terowongan carpal ( Putz R dan R. Pabst, 2005 )

c.  Otot

Otot merupakan stabilitas aktif dan penggerak tulang pembentuk sendi. Otot pergelangan tangan secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu oto fleksor dan otot ekstensor yang masing-masing terbagi dua bagian yaitu superficialis dan profunda. Otot fleksor superficialis yaitu otot fleksor carpi ulnaris, fleksor carpi radialis, fleksor digitorum sublimes dan palmaris longus (Cailliet, 1990).

Otot fleksor carpi radialis dan fleksor carpi ulnaris berfungsi fleksi pergelangan tangan, dan otot ekstensi ekstensor carpi radialis longus brevis dan ekstensor carpi ulnaris berfungsi ekstensi pergelangan tangan. Pada gerakan ulnar deviasi dilakukan oleh m. ekstensor carpi ulnaris dan fleksor carpi ulnaris. Sedangkan gerakan radial deviasi dilakukan oleh m. ekstensor carpi radialis, fleksor carpi radialis, ekstensor pollicis brevis dan abductor pollicis longus.

d.  Nerves medianus

Berasal dari pleksus brakhialis dengan dua buah caput yaitu kaput medial dari fasikulus medialis dan kaput lateral dari fasikulus lateralis. Kedua kaput tersebut bersatu pada tepi bawah otot pectoralis minor, jadi serabut dalam trunkus berasal dari tiga atau empat segmen medulla spinalis (C6-8, Th1). Dalam lengan serabut saraf ini tidak bercabang. Truncus berjalan turun sepanjang arteri brachialis dan melewati sisi volar lengan bawah dan bercabang masuk ke tangan dan berakhir dengan cabang dan muscular kutaneus (Chusid, 1993).

Otot-otot yang mensyarafi nerves medianus antara lain: m. pronator teres , m. flexor  carpi radialis, m.  palmaris longus, m. flexor digitorum provundus, m.flexor pollicis longus dan pronator quadratus (Chusid, 1993). Apabila ada lesi yang mengenai nerves medianus akan mengakibatkan terjadinya pengurangan sensoris pada bagian volar lengan bawah, daerah palmar tangan jari 1,2,3 dan setengah jari ke-4.

Gambar 3

Otot-otot pergelangan tangan tampak palmar ( Putz R dan R. Pabst, 2005 )

Gambar 4

Otot-otot lengan tampak palmar ( Putz R dan R. Pabst, 2005 )

e.  Biomekanik

Ditinjau dari morfologinya termasuk artikulasio ellipsoidea, tetapi fungsinya sebagai artikulatio gluboidea. Gerakan yang terjadi pada persendian itu yaitu flexi dengan LGS 80°, extensi 70°, ulnar deviasi 30 °, dan radial deviasi 20°. Derajat flexi dan ulnar deviasi lebih besar dibandingkan dengan gerakan extensi dan radial deviasi, hal ini disebabkan karena bentuk permukaan sendi radius dari ligamen bagian dorsal lebih kendor dari pada bagian palmar (Chusid, 1967).

Gambar 5

Perjalanan nerves medianus ( Putz R dan R. Pabst, 2005 )

2. Definisi

 

Carpal Tunnel Syndrom adalah entrapment neuropaty yang sering terjadi. akibat adanya tekanan nervus medianus pada saat melalui terowongan karpal di pergelangan tangan tepatnya di bawah flexor retinakulam (Rambe, 2004).

3. Etiologi

Carpal tunnel syndrom dapat dibagi menjadi dua yaitu akut dan kronis, namun pada sebagian kasus etiologinya tidak diketahui ( idiopatik ), terutama pada penderita lanjut usia. Selain itu gerakan yang berulang-ulang pada pergelangan tangan dapat menambah resiko carpal tunnel syndrom (Maxey, 1990). Nerves medianus dapat terjebak juga di carpal tunnel itu. Etiologi lain adalah (1) trauma seperti (dislokasi atau fraktur yang mengenai tulang carpal atau ujung radius atau fraktur colles atau hematom pada lengan bawah, sprain pergelangan tangan, pekerjaan dalam posisi menekuk atau fleksi ekstensi secara berulang- ulang), (2) infeksi oleh karena sinovitis seperti tenosinovitis yang disebabkan karena inflamasi kronis serta fibrosis pada fleksor sinoviali; infeksi karena tuberculosis, (3) penyakit degeneratif seperti osteoartritis, (4) penyakit kolagen vaskuler seperti remathoid arthritis amiloidosis hipotiroidisme dan lupus erimatosis yang mempredisposisi kompresi saraf median didalam terowongan karpal akibat penebalan dan hipertrofi ligament serta jaringan ikat lainnya, (5) penyakit iatrogenik seperti punksi arteri radialis, hematoma, komplikasi dari terapi anti koagulan (6) Neoplasma seperti kista ganglion, lipoma, infiltrasi metastase, mieloma (7) Kehamilan juga bisa menyebabkan sindroma ini diduga karena retensi air pada jaringan ikat sekitar pergelangan tangan, sindroma biasanya terjadi pada trisemester ketiga yang biasanya bilateral (Rambe, 2004).

4.  Patologi

Ada beberapa hipotesa mengenai patogenesis carpal tunnel syndrom. Sebagian berpendapat bahwa faktor mekanik dan vaskuler memegang peranan penting dalam terjadinya carpal tunnel syndrom. Tapi umumnya carpal tunnel syndrome ini terjadi secara kronis dimana terjadi penebalan flexor retinakulum, yang menyebabkan tekanan terhadap nervus medianus. Tekanan yang berulang-ulang dan lama akan mengakibatkan peninggian tekanan intrafasikuler. Akibatnya aliran darah vena intrafasikuler melambat. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi intrafasikuler lalu diikuti anoxia, yang akan merusak endotel. Kerusakan endotel ini akan mengakibatkan kebocoran protein sehingga terjadi edema epineural. Apabila kondisi ini terus berlanjut akan terjadi fibrosis epineural yang merusak serabut saraf. Lama-kelamaan saraf menjadi atrofi dan akan digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi dari nervus medianus terganggu (Rambe, 2004).

5. Tanda dan gejala

a.  Gangguan sensorik

Gangguan sensorik yang timbul awalnya adalah parestesia, kurang merasa (numbness) atau rasa jari seperti terkena aliran listrik pada jari dan setengah sisi radial jari, walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari, keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. Gejala lain adalah nyeri ditangan yang juga dirasakan lebih memberat di malam hari . Kadang-kadang nyeri dapat terasa sampai ke lengan atas dan leher, sedangkan parestesia umumnya terbatas di daerah distal pergelangan tangan (Rambe, 2004). Dapat pula dijumpai pembengkakan dan kekakuan pada jari-jari tangan dan pergelangan tangan terutama di pagi hari.

b. Gangguan motoris

Pada tahap lanjut dapat terjadi gangguan pada nerves medianus yang menimbulkan kelemahan otot tenar sehingga jari-jari tidak dapat digunakan untuk bekerja, misalnya menjahit, menulis, mengancingkan baju, mengendarai motor.       

             6.  Komplikasi

Komplikasi carpal tunnel syndrome adalah atrofi otot-otot thenar, kelemahan otot-otot thenar, dan ketidakmampuan tangan untuk beraktifitas (Shidarta, 1984).

7.  Prognosis Gerak dan Fungsi

      Carpal tunnel syndrome yang kasusnya idiopatik mempunyai gejala yang timbul dan hilang dalam beberapa bulan atau tahu, tapi rasa tidak enak pada malam hari dapat lebih menonjol dan berlangsung sehingga mengganggu penderita. Progresitifitasnya lebih sering terjadi bila ada penyakit yang melatarbelakanginya. Bila hanya ada kelainan sensorik, kelainan ini bersifat reversible, tapi bila dijumpai kelainan motorik maka kesembuhanya lebih lama walaupun telah melakukan banyak terapi.

8.   Diagnosa Banding

            Diagnosa carpal tunnel syndrome adalah (1) Pronator teres syndrome, keluhannya lebih menonjol pada rasa nyeri pada telapak tangan  karena cabang nerves medianus ke kulit telapak tangan tidak melaui terowongan karpal, (2) Inoracic outlet syndrome, dijumpai atrofi otot-otot tangan lainya selain otot-otot thenar, (3) Cervical radikulopathy, keluhannya berkurang bila leher diistirahatkan dan bertambah bila leher bergerak (Rambe, 2004).

B. Deskripsi Problematik Fisioterapi

   1.   Impairment

a.   Nyeri

Terjadi karena tekanan yang berulang-ulang  dan penjepitan nerves medianus sehingga tekanan intrafesikuler meningkat.

b.   Parestesia

Terjadi karena penjepitan pada nerves medianus sehingga aliran darah ke otot-otot yang disyarafi nerves medianus berkurang (Rambe, 2004) .

c.    Penurunan kekuatan otot dan kemampuan fungsional

Terjadi karena nyeri yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang yang  mengakibatkan otot inaktif sehingga elastisitasnya berkurang .

  1. 2.        Functional Limitation

Penderita mengalami gangguan dalam aktivitas sehari-hari seperti mengendarai motor, menyapu, mencuci, dan lain-lain.

  1. 3.        Disability

Aktifitas sehari-hari yang berhubungan dengan tangan terganggu dalam melakukan aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga, sebagai anggota keluarga serta dalam lingkungan masyarakat.

C. Teknologi Intervensi Fisioterapi

Modalitas yang digunakan yaitu dengan ultra sonic dan terapi latihan berupa latihan penguatan otot–otot pada tangan berupa latihan resisted exercise.

 

  1. Ultra Sonic

Gelombang ultra sonic adalah gelombang suara yang tidak dapat didengar oleh manusia. Merupakan gelombang longitudinal yang gerakan partikelnya yang  perambatanya memerlukan media penghantar. Media penghantar harus elastis agar partikel bisa berubah bentuk. Dari sini dijumpai daerah padat atau  Compression dan daerah renggang atau refraction (Sujatno dkk, 2002).

Dalam penggunaaan modalitas ultra sonic beberapa ahli membuktikan bahwa ultra sonic efektif untuk mengurangi nyeri karena ultra sonic dapat meningkatkan ambang rangsang, mekanisme dari efek termal panas. Selain itu pembebasan histamin, efek fibrasi dari ultra sonic terhadap gerbang nyeri  dan suatu percobaan ditemukan bahwa pemakaian ultra sonic dengan pulsa rendah dapat merangsang pengeluaran dan pelepasan histamine. Histamine menyebabkan pelebaran pembuluh darah lokal sehingga terjadi percepatan pembersihan zat atau bahan kimia yang menyebabkan nyeri (Cameron, 1999).

a.  Mesin ultra sonic

Mesin ultra sonic terdiri dari sirkuit primer dan sirkuit skunder. Sirkuit primer adalah generator berfrekuensi tinggi yang membangkitkan arus listrik berfrekuensi tinggi pula. Sirkuit ini yang dihubungkan dengan tranduser dari bahan piezo elektrik yang disebut sebagai sirkuit skunder yang memiliki frekuensi sama dengan sirkuit primer .  Frekuensi sirkuit sekunder juga ditentukan oleh ketebalan bahan piezo elektrik yang harus disesuaikan dengan sirkuit primer. Mesin ultra sonic dapat memberikan energi secara kontinyu dan terputus. Pada pemberian-pemberian ultra sonic secara terputus efek panas dapat ditekankan dan memungkinkan pemberian dengan intensitas yang tinggi. Sedang pemberian pemberian secara kontinyu lebih menekankan efek termalnya.

Dalam tranduser terdapat area yang memiliki radiasi efektif yang disebut dengan ERA ( Effective Radiating Area ). Penentuan ERA sangat penting dalam pemberian intensitas selain luas daerah yang diobati.

b. Fisika Dasar Ultra Sonic

1) Sifat-sifat gelombang Ultra sonic

Gelombang ultra sonic memiliki dua area pancaran yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda yaitu area konvergen dan area divergen. Area konvergen memiliki ciri terdapat gejala intervensi pada bundle tersebut sehingga timbul variasi intensitas yang besar (Sujatno dkk, 2002). Sedangkan area divergen memiliki ciri tidak terjadi gejala interfensi sehingga bundle gelombang sama dan intensitas semakin berkurang. Jika jarak tranduser semakin jauh dari permukaan tubuh. Pada area ini bundle gelombangnya memiliki diameter lebih besar sehingga penyerapan energi lebih besar .

2)      Panjang gelombang

Frekuensi dari mesin ultra sonic tetap dan kecepatan penyebaran ditentukan oleh  medium, maka panjang gelombang tergantung dari medium yang digunakan.

3)  Penyebaran gelombang ultra sonic

Penyebaran gelombang ultra sonic di dalam tubuh manusia timbul oleh karena fenomena yaitu adanya refleksi dan difergensi pada area divergen. Adanya  penyebaran gelombang ultra sonic dapat menimbulkan efek di luar daerah pancaran bundle ultra sonic sehingga harus diperhatikan media-media yang kuat daya refleksinya seperti metal, udara, dan jaringan tulang.

4)  Penyerapan dan penetrasi pada gelombang ultra sonic

Jika energi ultra sonic masuk kedalam jaringan tubu, maka efek pertama yang diharapkan adalah efek biologis. Oleh karena adanya penyerapan tersebut semakin dalam gelombang ultra sonic masuk kedalam tubuh, maka intensitasnya akan semakin berkurang.

Gelombang ultra sonic diserap jaringan tubuh dalam berbagai ukuran. Sebagai ukuran digunakan koefisien penyerapan. Penyerapan tergantung pada frekuensi. Pada frekuensi rendah penyerapanya lebih sedikit dari pada yang berfrekuensi tinggi. Disamping refleksi, koefisien penyareapan menentukan penyebaran ultra sonic di dalam tubuh.

Semakin dalam gelombang ultra sonic masuk kedalam tubuh semakin besar pula intensitasnya. Pada frekuensi rendah penyerapan lebih sedikit daripada frekuensi tinggi.

5)  Bentuk gelombang

Bentuk gelombang dari ultra sonic antara lain (a) Continous yaitu gelombang yang dihantarkan secara terus-menerus (b) Interupted / pulsa yaitu gelombang yang terputus, dengan bentuk pulsa dan lamanya ditentukan oleh karakteristik mesin yang digunakan.

    6) Media penghantar

Media penghantar harus memenuhi kriteria harus bersih dan steril pada keadaan tertentu, tidak terlalu cair ( kecuali metode sub aqual ), tidak cepat terserap kuli, tidak menyebabkan flek-flek, tidak menimbulkan iritasi kulit, mudah meghantarkan ultra sonik, transparan dan murah.

c.   Efek dari ultra sonic

1)      Efek mekanik

Efek yang pertama kali didapat oleh tubuh adalah efek mekanik. Gelombang ultra sonic menimbulkan  peregangan dan perapatan didalam jaringan dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi dari ultra sonic. Efek mekanik ini juga disebut dengan micro massage. Pengaruhnya terhadap jaringan yaitu meningkatkan permeabilitas terhadap jaringan dan meningkatkan metabolisme.

Micro massage adalah merupakan efek teraputik yang penting karena semua efek yang timbul oleh terapi ultra sonic diakibatkan oleh micro massage ini.

2)      Efek termal

Panas yang dihasilkan tergantung dari nilai bentuk gelombang yang digunakan, intensitas dan lama pengobatan. Yang paling besar yang menerima panas adalah jaringan antar kulit dan otot. Efek termal akan memberikan pengaruh pada jaringan yaitu bertambahnya aktivitas sel, vasodilatasi yang mengakibatkan penambahan oksigen dan sari makanan dan memperlancar proses metabolisme.

3)      Efek biologi

Efek biologi merupakan respon fisiologi yang dihasilkan dari pengaruh mekanik dan termal. Pengaruh biologi ultra sonic terhadap jaringan antara lain:

a)  Memperbaiki sirkulasi darah

Pemberian ultra sonic akan mengakibatkan kenaikan temperatur dan vasodilatasi sehingga aliran darah ke daerah yang diobati menjadi lebih lancar. Hal ini akan memungkinkan proses metabolisme dan pengangkutan sisa metabolisme serta suplai oksigen dan nutrisi menjadi meningkat.

b)  Rileksasi otot

Rileksasi otot akan mudah dicapai bila jaringan dalam keadaan hangat dan rasa sakit tidak ada . Pengaruh termal dan mekanik dari ultra sonic dapat mempercepat proses pengangkutan sel P (zat asam laktat) sehingga dapat memberikan efek rileksasi pada otot.

c)  Meningkatkan permeabilitas jaringan

Energi ultra sonic mampu menambah permeabilitas jaringan otot dan pengaruh mekaniknya dapat memeperlunak jaringan pengikat.

d)  Mengurangi nyeri

Nyeri dapat berkurang dengan pengaruh termal dan pengaruh langsung terhadap saraf. Hal ini akibat gelombang pulsa yang rendah intensitasnya memberikan efek sedatif dan analgetik pada ujung saraf sensorik sehingga mengurangi nyeri. Pengurangan rasa nyeri ini diperoleh antara lain, perbaikan sirkulasi darah, normalisasi dari tonus otot, berkurangnya tekanan dalam jaringan, berkurangnya derajat keasaman.

e)   Mempercepat penyembuhan

Ultra sonic mampu mempercepat proses penyembuhan jaringan lunak . Adanya peningkatan suplai darah akan meningkatkan zat antibody yang mempercepat penyembuhan dan perbaikan pembuluh darah untuk memperbaiki jaringan.

f)  Pengaruh terhadap saraf parifer

Menurut beberapa penelitian bahwa ultra sonic dapat mendepolarisasikan saraf efferent, ditunjukkan bahwa getaran ultra sonic dengan intensitas 1,2 w/cm2 dengan gelombang kontinyu dapat mempengaruhi exitasi dari saraf perifer. Efek ini berhubungan dengan efek panas. Sedangkan dari aspek mekanik tidak teralu berpengaruh (Sujatno dkk, 2002).

2. Terapi Latihan

Terapi latihan merupakan salah satu pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaanya menggunakan latihan-latihan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif. Atau pula dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mempercepat proses penyembuhan dari suatu cidera yang telah merubah cara hidupnya yang normal. Hilangnya suatu fungsi atau adanya hambatan dalam melakanakan suatu fungsi dapat menghambat kemampuan dirinya untuk hidup secara independent yaitu dalam melaksanakan aktifitas kerja (Priyatna, 1985).

Tujuan dari terapi latihan adalah (1) Memajukan aktifitas penderita, (2) Memajukan kemampuan penderita yang telah ada untuk dapat melakukan gerakan-gerakan yang berfungsi serta bertujuan, sehingga dapat beraktifitas normal (Priyatna, 1985).

Terapi latihan pada carpal tunnel syndrom adalah resisted active exercise merupakan latihan yang dilakukan dengan memberikan tahanan dari luar terhadap kerja otot yang memebentuk suatu gerakan. Tahanan dari luar tersebut bisa berasal dari tahanan manual ataupun mekanik (Kisner,1996). Apabila otot itu berkontaksi dengan melawan suatu tahanan, maka ketegangan dalam otot itu akan naik. Karena ketegangan otot bertambah ( bila melawan melawan suatu tahanan) maka untuk memperkuat otot- otot dengan menggunakan resistance. Tahanan yang dilaksanakan bisa menggunakan tahanan manual, kantong pasir, per, dan karet. Efek penggunaan resisted exercise adalah: (1) Menaikkan kekuatan dan daya tahan otot, (2) Memperbaiki ketidakseimbangan otot, (3) Memperkembang koordinasi gerakan, (4) Memperbaiki kemampuan fungsional, (5) Memperbaiki kondisi umum penderita.

 

BAB III

PELAKSANAAN STUDI KASUS

A. Pengkajian Fisioterapi

1. Anamnesis

            Anamnesis adalah suatu tanya jawab mengenai keadaan pasien yang bisa dilakukan langsung oleh pasien sendiri dan dilakukan orang lain yang mengetahui keadaan pasien.

  1. Anamnesis umum

Ditanyakan mengenai  identitas pasien yang meliputi nama: Ny. Eni, umur: 33 tahun, jenis kelamin: perempuan, agama: islam, alamat: Klipang Permai Blok G No. 134 Semarang, pekerjaan: ibu rumah tangga.

  1. Anamnesis khusus

Merupakan anamnesis yang berhubungan dengan kondisi carpal tunnelnya, meliputi:

1) Keluhan utama

Merupakan suatu kondisi yang dirasakan oleh pasien yaitu adanya nyeri, terasa tebal, kesemutan yang dirasakan oleh pasien pada pergelangan tangan kanan dan kiri.

2) Riwayat penyakit sekarang

Riwayat penyakit sekarang diketahui sejak tiga bulan yang lalu, pasien merasakan kesemutan dan rasa tebal pada telapak tangan disertai nyeri. Setelah dirasakan lama-kelamaan rasa kesemutan itu makin sering terjadi dan pasien kesulitan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci, memasak, menyapu, dan mengendarai motor. Pada bulan November, pasien memeriksakan ke RSUD Kota Semarang datang ke dokter saraf kemudian dirujuk ke fisioterapi.

3) Riwayat penyakit dahulu

Pasien tidak pernah mengalami penyakit serupa dan tidak pernah mengalami hal-hal yang memicu penyakit tersebut.

4) Riwayat pribadi

Pasien adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari  melakukan aktivitas di rumah, seperti mencuci, memasak, dan menyapu dan bepergian naik motor.

5) Riwayat penyakit penyerta

Pasien tidak punya penyakit lain.

6) Riwayat keluarga

Tidak ada keluarga yang mempunyai riwayat penyakit serupa.

7) Anamnesis system

Anamnese system diperoleh informasi untuk system (a). Kepala dan leher, tidak ada keluhan, (b). Kardiovaskuler, tidak ada       keluhan, (c). Respirasi, tidak ada keluhan, (d). Gastro intestinal, tidak ada keluhan, (e).Urogenital, tidak ada keluhan, (f). Muskuloskeletal, ada rasa nyeri pada pergelangan tangan kanan dan kiri, (g). Nervorum, ada rasa tebal dan kesemutan pada pergelangan tangan kanan dan kiri.

  1. 2.  Pemeriksaan fisik

               Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital, inspeksi, palpasi, pemeriksaan gerak, kemampuan fungsional, pemeriksaan kognitif, pemeriksaan spesifik.

a.  Pemeriksaan vital sign

Pemeriksaan vital sign yaitu pemeriksaan yang meliputi pengukuran tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, suhu, tinggi badan dan berat badan. Untuk pemeriksaaan yang dilakukan pada tanggal 5 Desember 2007 diperoleh data Tekanan darah 110/80 mmHg, Denyut nadi 72 kali, Pernafasan 18 kali, tinggi badan 150 cm, berat badan 40 kg.

b. Inspeksi

Inspeksi adalah pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati pada kasus carpal tunnel syndrome. Inspeksi yang perlu diperhatikan adalah, (1) Keadaan umum pasien yaitu baik, (2) Tanda-tanda inflamasi tidak ada, (3) Deformitas tidak ada, (4) Atrofi otot-otot sekitar pergelangan tangan tidak ada.

c. Palpasi

Palpasi adalah suatu pemeriksaan dengan cara meraba, menekan dan memegang bagian tangan pasien untuk mengetahui  (1) Adanya nyeri tekan, (2) Suhu normal, (3) Tidak ada pembengkakan.

d. Perkusi

Tidak dilakukan.

e. Auskultasi

Tidak dilakukan.

  3. Pemeriksaan Gerak

  1. Pemeriksaan Gerak Aktif

Pada pemeriksaan gerak aktif untuk memperoleh informasi tentang adanya nyeri gerak, kekuatan otot, koordinasi gerakan. Pada pemeriksaan ini pasien diminta melakukan gerakan ke segala arah bidang gerak yaitu gerakan fleksi wrist, ekstensi wrist, ulnar deviasi, dan radial deviasi. Dan dari pemeriksaan tersebut pasien dapat menggerakkan pergelangan tangan kanan dan kiri ke segala bidang gerak dengan full ROM tanpa disertai keluhan nyeri di akhir gerakan.

b. Pemeriksaan Gerak Pasif

Pada pemeriksaan gerak pasif untuk mengetahui adanya nyeri gerak atau nyeri tekan,  end feel sendi pergelangan tangan. Pada pemeriksaan gerakan dilakukan penuh oleh terapis ke segala arah bidang gerak yaitu gerakan fleksi-ekstensi pergelangan tangan, ulnar deviasi, dan radial deviasi yang dilakukan penuh oleh terapis tanpa menimbulkan kontraksi otot. Dan dari pemeriksaan tersebut didapatkan nyeri pada akhir gerakan. Dan endfeell pada pergelangan tangan yaitu endfeell lunak.

c. Pemeriksaan Gerak Isometrik Melawan Tahanan

Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memprovokasi nyeri musculotendineusnya. Pada pemeriksaan gerakan ini pasien diminta melakukan gerakan ke segala arah bidang gerak yaitu gerakan fleksi wrist, ekstensi wrist, ulnar deviasi, dan radial deviasi yang dilakukan penuh oleh pasien dengan tahanan dari terapis. Dan didapatkan pasien dapat menggerakan ke segala arah yaitu pada gerakan flexi-ekstensi wrist, abduksi dan adduksi wrist, ulnar dan radial deviasi wrist, dan ada sedikit keluhan nyeri.

           4. Kemampuan Fungsional

Pemeriksaan kemampuan fungsional ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan yang berhubungan dengan lingkungan. Kemampuan fungsional meliputi:

a. Kemampuan fungsional dasar

Pasien mampu menggenggam,  fleksi dan ekstensi, serta radial dan ulnar    deviasi pergelangan tangan kanan dan kiri.

  1. Aktivitas fungsional

Pasien dapat melakukan aktifitas makan dengan menggunakan tangan tanpa timbul nyeri, mampu memasak, mencuci baju, menyapu dan mengendarai motor secara mandiri tapi dalam jangka waktu yang lama timbul nyeri dan kesemutan.

c. Lingkungan aktivitas

Lingkungan aktivitas pasien tidak mendukung untuk kesembuhan karena banyak aktivitas yang dilakukan dengan tangan, seperti mencuci baju dan menyapu dan bepergian naik motor.

  1. 5.      Pemeriksaan kognitif, intra personal, interpersonal

Pemeriksaan kognitif diketahui bahwa memori pasien baik, mampu memahami dan mengikuti instruksi terapis. Pemeriksaan interpersonal diketahui bahwa pasien mempunyai semangat untuk sembuh sehingga dia rajin datang untuk terapi. Pemeriksaan intrapersonal  diketahui bahwa pasien dapat bekerjasama dan berkomunikasi baik dengan terapis atau lingkungan sekitar.

6.  Pemeriksaan spesifik

a.  Test profokasi

1)  Phalen test

Pergelangan tangan penderita dipertahankan selama kira-kira 30 detik dalam posisi flexi palmar penuh. Hasil yang diperoleh  hasil positif menunjukkan nyeri pada pergelangan tangan kanan dan kiri.

Gambar 6

Phalen test (De Wolf & Mens, 1994)

2)  Thinel test

Test ini mendukung diagnosa jika timbul parestesia atau nyeri pada daerah distribusi nervus medianus kalau dilakukan perkusi pada terowongan karpal dengan posisi tangan sedikit dorsi fleksi. Dan hasil yang diperoleh adalah positif pada pergelangan tangan kanan dan kiri.

Gambar 7

Tinel test (De Wolf & Mens, 1994)

3)   Phrayer test

Ekstensikan pergelangan tangan dengan maksimal tahanan selama 30 detik kemudian lepaskan maka akan timbul nyeri di pergelangan tangan. Dan hasil yang diperoleh adalah positif pada pergelangan tangan kanan dan kiri.

b.  Dermatom test

Dermatom test adalah test sensitifitas pada daerah yang mendapatkan persyarafan nervus  medianus. Yaitu berupa test tajam tumpul ataupun panas dingin. Dan hasil dari dermatom test yang penulis lakukan menunjukkan tidak adanya pengurangan sensibilitas pada daerah yang disyarafi nerves medianus pada pergelangan tangan kanan dan kiri.

c.  Pengukuran kekuatan otot

Yaitu pengukuran secara fungsional dengan mengukur kekuatan dan integrasi dari fungsi dasar tangan yang berupa kelompok otot flexor, ekstensor, abduktor, dan adduktor pergelangan tangan dengan menggunakan MMT (Manual muscle Testing). MMT (Manual Muscle Testing) adalah suatu usaha untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam menunjukkan kontraksi otot. Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan adalah

Tabel 1

Nama Otot

Nilai otot

Wrist kanan:

Fleksor wrist

Ekstensor wrist

Ulnar deviasi

Radial deviasi

Wrist kiri

Fleksor wrist

Ekstensor wrist

Ulnar deviasi

Radial deviasi

4

5

5

4

5

4+

5

4

Hasil

pemeriksaan kekuatan otot dengan MMT

d.  Diskriminasi 2 titik

Dengan  mencari sensoris yang lemah pada distribusi nervus medianus yang telah disebutkan di depan dengan menggunakan bolpoin. Dan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pada daerah tangan kanan dan kiri adalah tidak adanya penurunan sensibilitas.

e. VAS (Visual Analog Scale )

Yaitu sebuah parameter yang digunakan untuk pengukuran nyeri yang menggunakan nilai 0cm sampai 10cm ( 0 = tidak nyeri, 10 = nyeri sekali). Dan hasil yang diperoleh adalah:

Kanan: Nyeri diam: 0 mm,  Nyeri gerak saat gerakan fleksi  dan ekstensi wrist: 4 mm,  Nyeri tekan pada dorsal tangan: 2 mm.

Kiri: Nyeri diam: 0 mm,  Nyeri gerak saat gerakan fleksi dan ekstensi wrist: 4 mm,  Nyeri tekan pada dorsal tangan: 2 mm.

B. Penatalaksanaan Terapi

            Penatalaksanaan fisioterapi untuk memberikan metode yang tepat dan efektif berdasarkan masalah yang dihadapi, penyebab dan kemampuan pasien sehingga tujuan dari terapi dapat tercapai dengan baik dan yang diharapkan dari program terapi dapat terwujud. Pada kasus carpal tunnel syndrome ini pelaksanaan fisioterapi menggunakan modalitas ultra sonic dan terapi latihan untuk mengatasi problematik yang dihadapi pasien.

Terapi pertama (T1) tanggal 5 Desember 2007:

  1. 1.      Ultra sonic

Gambar 8

Ultra sonic

a. Persiapan alat

Mesin di test apakah mesin dalam keadaan baik dan dapat mengeluarkan gelombang ultra sonic dengan cara memberi air pada tranduser  guna menampung air dan dipegang menghadap ke atas kemudian mesin dihidupkan, bila mesin dalam keadaan baik maka air akan bergerak seperti mendidih kemudian koupling medium, handuk, tissue, dan alkohol dipersiapkan.

b.  Persiapan pasien

Pasien diposisikan senyaman mungkin, rileks, dan tanpa adanya rasa sakit yaitu posisi dengan duduk kemudian tangan supinasi diletakkan diatas bed, kemudian pada bagian tangan disuport oleh bantal. Dan tangan yang akan diterapi harus terbebas dari pakaian dan segala aksesoris. Sebelum pemberian terapi dilakukan tes sensibilitas dengan menggunakan tabung berisi air panas dan dingin didaerah tangan bagian palmar. Posisi terapis duduk di depan pasien. Pasien  diberi penjelasan tentang tujuan pengobatan yang diberikan dan juga rasa panas yang dirasakan dan jika pasien merasakan seperti kesemutan  yang berlebihan saat terapi berlangsung diharapkan pasien langsung memberitahukan kepada terapis.

  c.  Pelaksanaan

Alat diatur sedemikian rupa sehingga tangkai mesin dapat menjangkau tangan yang akan diterapi kemudian area yang akan diterapi yaitu pada dorsal pergelangan tangan kanan diberikan koupling medium kemudian tranduser ditempelkan lalu mesin dihidupkan lalu tranduser digerakan pelan-pelan pada pergelangan tangan kanan pasien secara tranvers dan irama yang teratur di atas pergelangan tangan dengan arah tegak lurus  dengan area terapi, tranduser harus selalu kontak dengan kulit, dengan intensitas 1,5 watt/cm2 secara continous, lama terapi 5 menit diperoleh dari luas area 25 cm2 dan ERA 5 cm2. Selama proses terapi berlangsung harus mengontrol panas yang dirasakan pasien. Jika selama pengobatan rasa nyeri dan ketegangan otot meninggi, dosis harus dikurangi dengan menurunkan intensitas. Hal ini berkaitan dengan overdosis. Setelah terapi pada pergelangan tangan kanan selesai intensitas dinolkan dan dilanjutkan untuk pergelangangan tangan yang kiri sama seperti yang dilakukan pada pergelangan tangan kanan, setelah selesai kemudian alat dirapikan seperti semula. Untuk (T2 – T6) pemberian terapi ultra sonic pada pergelangan tangan kanan dan kiri sama seperti T1.

  1. 2.        Terapi Latihan

Ressisted exercise yaitu merupakan bagian dari active exercise dengan dinamik atau statik kontraksi otot dengan tahanan dari luar. Tahanan dari luar bisa dengan manual atau dengan mekanik.

Posisi pasien: duduk di kursi dengan tangan disangga bantal, terapis duduk berhadapan dengan pasien.

Pelaksanaan:

a. Gerakan dorsi fleksi dan palmar fleksi

Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh. Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri. Terapis menstabilisasi pada pergelangan tangan kemudian pasien diminta menggerakkan kearah dorsal dan palmar fleksi dan terapis memberi tahanan kearah palmar dan dorsal tangan dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan kemampuan pasien dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992).

Gambar 9

Gerak dorsal fleksi dan palmar fleksi dengan tahanan (De Wolf & Mens,    1994)

b.  Gerakan ulnar deviasi dan radial deviasi

Ulnar deviasi:

Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh dan pronasi dalam posisi netral. Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri Terapis memfiksasi pada distal lengan bawah dan pasien diminta menggerakkan tangan ke ulnar dan terapis memberi tahanan kearah dorsal tangan dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan kemampuan pasien, dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992).

Gambar 10

Gerak ulnar deviasi dan radial deviasi yang ditahan (De Wolf & Mens,       1994)

Radial deviasi:

Posisi pasien duduk nyaman dan lengan bawah tersangga penuh dan pronasi dalam posisi netral. Latihan diberikan pada pergelangan tangan kanan dan kiri Terapis memfiksasi pada distal lengan bawah dan pasien diminta menggerakkan tangan ke radial deviasi dan terapis memberi tahanan kearah ulnar tangan dengan aba – aba “pertahankan disini…tahan…tahan…”. Selama 7 hitungan kemudian hitungan ke-8 pasien rileks. Tahanan disesuaikan dengan kemampuan pasien, dengan pengulangan 8 – 10 kali (Bates, 1992).

Untuk (T2 – T6) pemberian terapi latihan  pada pergelangan tangan kanan dan kiri sama seperti T1 tapi untuk tahanannya ditambah.

  1. 3.      Edukasi

Agar hasil maksimal maka perlu diberikan edukasi pada pasien tentang cara melakukan aktivitas sehari-hari yang benar dan pemberian modalitas fisioterapi. Edukasi yang diberikan untuk penderita carpal tunnel syndrome yaitu pasien diminta untuk mengompres dengan air hangat pada kedua pergelangan sampai telapak tangan kanan dan kiri sekitar 10 menit, menggerakkan kedua pergelangan tangan sebatas nyeri pasien secara aktif dengan tujuan pemperlancar peredaran darah dan mengistirahatkan kedua tangan saat timbul nyeri dan juga jangan mengangkat beban berat yang menimbulkan nyeri, serta melakukan latihan tangan  seperti yang diajarkan terapis tapi menggunakan tahanan kantong pasir, jangan mengangkat beban berat yang menimbulkan nyeri, jangan memaksakan bekerja secara berlebihan saat tangan merasa nyeri .

C. Evaluasi Hasil Terapi

Untuk mengetahui kemajuan dan kemunduran pasien dengan kondisi carpal tunnel syndrome bilateral atas nama Ny. Eni berumur 33 tahun setelah mendapatkan terapi, maka perlu dibandingkan antara hasil sebelum dan sesudah diberikan  terapi.

  1. Tes provokasi

Test Provokasi

T0

T3

T6

Wrist kanan:

           Test Thinel

Test Phanel

  Test Phrayer

           Wrist kiri:

Test Thinel

Test Phanel

   Test Phrayer

 

 

+

+

+

+

+

+

 

 

-

+

+

-

+

+

 

 

-

-

+

-

-

           +

  1. Nyeri dengan VAS
     VAS

T0

T3

T6

Wrist kanan:Nyeri tekan

Nyeri gerak

Nyeri diam

Wrist kiri:

Nyeri tekan

Nyeri gerak

Nyeri diam

2

4

0

2

4

0

2

3

0

2

3

0

1

3

0

1

3

0

  1. Kekuatan otot dengan MMT
       MMT

T0

T3

T6

Wrist kanan:Fleksor wrist

Ekstensor wrist

Ulnar deviasi

Radial deviasi

Wrist kiri:

Fleksor wrist

Ekstensor wrist

Ulnar deviasi

Radial deviasi

4

5

5

4

5

4+

5

4

4+

5

5

4

5

4+

5

4+

4+

5

5

4

5

4+

5

4+

4. Kemampuan fungsional pada tangan yaitu pasien sudah sedikit sempurna saat menggenggam, memasak, mencuci dan saat mengendarai motor nyeri agak berkurang.

BAB 1V

PEMBAHASAN HASIL

 

Seorang wanita berumur 33 tahun dengan carpal tunnel syndrome bilateral yang menimbulkan masalah adanya paraestesia, rasa tebal dan penurunan kekuatan otot, dan penurunan kemampuan fungsional tanganya setelah mendapatkan penanganan fisioterapi dengan menggunakan modalitas ultra sonic dan terapi latihan sebanyak 6 kali dengan remisi tiga kali seminggu didapatkan perkembangan yang positif yaitu adanya pengurangan keluhan parestesia, pengurangan rasa tebal, pengurangan rasa nyeri, peningkatan kemampuan fungsional tangan, peningkatan kekuatan otot pada ke dua pergelangan tangannya.

Berikut ini adalah grafik kemajuan dari problematika pada pasien dengan carpal tunnel syndrome bilateral dengan menggunakan parameter tertentu.

Grafik 1

Grafik nilai VAS wrist kanan

Grafik 2

Grafik nilai VAS wrist kiri

Dari 2 grafik di atas dapat dilihat pengaruh pemberian ultra sonic  pada pergelangan tangan kanan dan kiri sama yaitu nyeri gerak dan nyeri tekan berkurang 1 , sedangkan nyeri diam tidak ada.

Grafik 3

Grafik nilai peningkatan kekuatan otot

 pergelangan tangan kanan

 

 

Grafik 4

Grafik nilai peningkatan kekuatan otot

 pergelangan tangan kiri

 

Dari 2 grafik di atas dapat dilihat bahwa kekuatan otot pada semua sendi pergelangan tangan kanan dan kiri mengalami peningkatan.

Tabel 2

Tabel test provokasi pada pemeriksaan carpal tunnel syndrome

Test Provokasi

T0

T3

T6

Wrist kanan:

           Test Thinel

Test Phanel

  Test Phrayer

           Wrist kiri:

Test Thinel

Test Phanel

   Test Phrayer

 

+

+

+

+

+

+

 

-

+

+

-

+

+

 

-

-

+

-

-

           +

Data yang dapat memberikan bukti klinis yaitu dari data yang bersifat subjektif dari pasien antara lain adanya pengurangan keluhan kesemutan dan rasa tebal pada tangan kanan dan kirinya, peningkatan kemampuan fungsional tangan dan peningkatan kekuatan otot, kemudian test tinel dan test phalen negative pada T6 pada ke dua pergelangan tangannya.

Pada kasus ini penggunaan ultra sonic efektif dalam mengurangi nyeri karena adanya pengaruh termal dan pengaruh langsung dari serabut saraf. Nilai ambang rangsang nyeri meningkat setelah pemberian Ultra Sonic dengan intensitas 1 – 1,5 W/cm2 selama 2 menit (Michlovitz, 1996). Menurut Midellamas dan chatterje bahwa acut soft tissue injury dapat membaik dengan diberikan ultra sonic 1,5 MHz pada intensitas 0,5 –  1 watt/cm² selama  4 – 10 menit untuk jaringan superficial dan 1-2 watt/cm² untuk jaringan yang lebih dalam. Dengan gelombang continous pada ultra sonik pada intensitas 0,5 – 2 W/cm2 dan frekuensi 1,5 MHz telah menghasilkan efek yang lebih efektif pada jaringan superficial dari pada pemanasan dengan parafin dan modalitas lainnya dalam hal mengurangi nyeri pada soft tissue injury atau pada kondisi akut (Cameron, 1999). Selain itu dengan berkurangnya nyeri maka tidak terjadi hambatan dalam kontraksi otot dan kekuatan ototpun bias meningkat, sehingga kemampuan menggenggam juga meningkat.

Efek yang dihasilkan ultra sonic salah satunya yaitu efek thermal yang akan mengakibatkan dilatasi pembuluh darah sehingga terjadi peningkatan aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk perbaikan jaringan. Selain itu proses pengangkutan zat pengiritasi menjadi lebih lancar sehingga diperoleh efek rileksasi. Dengan frekuensi 1MHz efek thermal dari pemakaian ultra sonik dapat menembus jaringan hingga kedalaman 5 cm dari permukaan kulit (Cameron, 1999). Adanya pengaruh non termal dari ultra sonic mampu memberikan efek peningkatan permeabilitas jaringan kolagen dan perubahan aktifitas seluler yang berperan dalam proses regenerasi jaringan   (Sujatno dkk, 2002).

Nyeri spontan, tenderness, erytema, dan swelling  setelah 10 kali pengobatan selama 12 hari menunjukkan perbandingan yang berarti dibanding terapi infra red, SWD, atau wax bath (Michlovitz, 1996). Sedang penelitian lain menunjukan bahwa dengan pemberian ultra sonic  dengan dosis 1 watt/cm² dengan gelombang konstan selama 5 menit dapat meninggikan ambang rangsang (TITAFI, XV). Penggunaan ultra sonic telah digunakan sejak 50 tahun yang lalu dan efek yang ditimbulkan paling besar adalah efek biologi pada jaringan dengan frekuensi tinggi dengan angka kesembuhan mencapai 73% (Miclhovitz, 1996).

Selain mengoptimalkan modalitas yang telah digunakan yaitu usaha untuk mengurangi nyeri, untuk mencegah adanya atrofi atau menjaga sifat fisiologis otot tangan dan sekitarnya, kelemahan otot, dan gangguan dalam aktivitas dapat dilakukan dengan berbagai teknik terapi latihan baik dengan resissted exercise (Michlovitz, 1996). Manfaat dari terapi latihan adalah untuk meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan kemampuan fungsional, meningkatkan peredaran darah pada persendian dan nutrisi tulang rawan sendi dan memperbaiki fungsi jaringan sekitar persendian akibat peradangan atau perlengketan. Suatu percobaan membuktikan bahwa dengan resisted exercise dengan pengulangan 1-8 kali dapat meningkatkan kekuatan otot hingga 60% dan tidak terjadi hambatan dalam kontraksi otot (Miclhovitz,1996).

Keberhasilan yang nyata dengan pemberian terapi ultra sonic dan terapi latihan pada kondisi carpal tunnel syndrome ini dipengaruhi oleh beberapa factor pendukung. Faktor yang mendukung keberhasilan terapi yang dilaksanakan berasal dari faktor terapis, pemilihan modalitas yang efektif, serta faktor dari pasien sendiri. Faktor dari terapis antara lain tingkat pengetahuan tentang carpal tunnel syndrome yaitu proses patologis sampai penatalaksanaan terapi, kemampuan terapis dalam memilih dan melaksanakan program terapi dan pemberian edukasi yang jelas dan benar kepada pasien. Modalitas ultra sonic dilakukan  dalam keadaan baik sehingga dapat memberikan efek terapi sesuai yang diinginkan. Sedangkan dari pasien sendiri, dukungan dari pasien terhadap program terapi yang telah ditetapkan dapat memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

 

BAB V

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dari uraian yang telah dijelaskan dalam bab terdahulu, mulai dari penyebab, perjalanan penyakit sampai pelaksanaaan terapi dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa carpal tunnel syndrome adalah suatu sindroma akibat adanya penekanan nervus medianus pada terowongan carpal dengan derajat penekanan yang bervariasi dari ringan sampai berat. Keadaan tersebut muncul karena adanya berbagai kondisi, artinya syndroma ini jarang muncul sendiri tanpa adanya kondisi lain sebaga pencetus carpal tunnel syndrome sendiri mempunyai gejala dan tanda klinis yang beragam tergantung derajat kerusakan nervus medianus yang tertekan.

Modalitas fisioterapi yang dapat diberikan pada kondisi ini antara lain: ultra sonic, short wave diathermy, micro wave diathermy, infra red, massage, terapi latihan, cold pack. Fisioterapi dengan modalitas ultra sonic dan terapi latihan merupakan terapi yang dapat diberikan pada kondisi carpal tunnel syndrome. Untuk mengatasi masalah yang muncul, yang meliputi impairment, functional limitation, serta disabilitynya.

Pada kasus ini dengan menggunakan ultra sonic dan terapi latihan selama 6 kali, dapat mengatasi masalah dengan hasil menambah kekuatan otot, mengurangi nyeri dan meningkatkan kemampuan fungsional tangan walaupun  belum sepenuhnya dapat diatasi. Peningkatan ini berkat kerja sama fisioterapis dan tenaga kerja lain.

B. Saran

      Adanya kerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain merupakan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan, meskipun pemberian modalitas fisioterapi memegang peranan penting. Hendaknya fisioterapi melakukan identifikasi dan interprestasi masalah dengan baik sehingga bisa diberikan interfensi yang sesuai dengan permasalahan yang ada.

Dalam pemberian  modalitas perlu diperhatikan pengecekan terhadap modalitas secara periodik agar program terapi yang dilaksanakan dapat mencapai hasil yang optimal. Fisioterapi sendiri hendaknya mengembangkan pengetahuan dan selalu merasa tidak puas dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Hal-hal yang juga mempengaruhi keberhasilan terapi adalah motivasi pasien untuk sembuh, peranan dari keluarga serta kerjasama dari tenaga kesehatan lain yang terkait.

Penulis berharap semoga penyajian penulisan ini dapat bermanfaat dalam memberikan pelayanan terapi pada carpal tunnel syndrome dengan modalitas fisioterapi berupa ultra sonic dan terapi latihan. Akhirnya penulis menyadari bahwa penyajian mengenai penatalaksanaan terapi ultra sonic dan terapi latihan pada carpal tunnel syndrome bilateral dalam Karya Tulis Ilmiah ini masih mempunyai banyak kekurangan dan perlu disempurnakan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan guna kepentingan bersama yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bates, Andrea, 1992; Aquatic Exercise Therapi; W.B Sounders Company, Philadelpia.

Cailliet, Rene, 1990; Neck and Arm Pain; F.A Davis Company, Callifornia.

Chusid, J.G,1967; Corelative Neuro Anatomy and Fungsional Neurologi; Thirtheen, Lange Medical, Publication Los Altos, California, hal. 220.

Connoly, John, 1981; The Management of Fractures and Dislocation; Bagian satu, Gajah Mada University Press, Yogyakarta

De Wolf AN and Mens, 1994; Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh; Bohn Stafleu Von Loghom, Houten Seventeen.

Dep Kes RI, 1999; Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia sehat 2010; Jakarta.

Hislop, H.J and Montgomery, J, 1995; Muscle Testing Technique of Manual Examination. Sixth edition, Daniel and Wortingham’s, Churchill Livingstone, USA.

Kisner, C and Colby, 1996; Therapeutic Exercise Fondation and Teqniques; Second edition, Davis Company, Philadelpia .

Livingstone, Churchill, 1983; The Hand Examination and Diagnosis; Aurora, New York.

Maxey, Lisa, 1990; Rehabilitation For Postsurgical Ortopedic Patient; Cetakan Pertama, Davis Company, St Louis, hal. 101.

Michlovitz, Susan, 1996; Thermal Agent in Rehabilitation; Third edition, Davis Company, Philadelpia.

Priyatna, Heri, 1985; Exercise Therapy; Akademi Fisioterapi Surakarta.

Putz, R and R. Pabst, 2000; Sobotta Atlas Anatomi Manusia; E.G.C, Jakarta.

Rambe, Aldy (2004); Carpal Tunnel Syndrome; Diakses 4 Oktober 2006, dari http:/www.rsup.adammalik.cline.net.html.

Shidarta, Priguna, 1984; Sakit Neuro Muskulo Skeletal; Cetakan kedua, P.T Dian Rakyat, Jakarta, hal. 140.

Snell, Richard S,1997; Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran; Bagian tiga, penerbit EGC, Jakarta.

Sujatno, I.g dkk, 2002; Sumber Fisis; Akademi Fisioterapi Surakarta.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.